Mahasiswa ITB: Dari nonton film berjamaah hingga main kartu!

Main kartu di perpus itb - 3 Sep 2013 (black)-R2
Sekelompok mahasiswa ITB tengah bermain kartu remi di perpustakaan (Perpustakaan Pusat ITB, Lt.3, 3 September 2013)

 

“Kalian tahu ini perpustakaan? Kalian gak malu, sementara orang sekeliling kalian belajar, kalian ribut main kartu! Percuma kalian lulus dari ITB cuma ngandelin otak pinter tapi gak punya kepekaan sama lingkungan sekitar! Percuma kalian punya IPK tinggi (kalau sama sebelah saja ga peduli).”

Untuk kesekian kalinya saya membubarkan mahasiswa yang sedang bermain kartu di perpustakaan ITB. Dan kali ini, saya berhasil mengabadikannya fotonya. Saya sebenarnya duduk di pojok ruangan, dan mereka menggelar “partai” agak di tengah ruangan, terhalang rak-rak buku yang besar, tapi saking kerasnya suara tawa dan ribut mereka, sampai jelas terdengar ke penjuru ruangan.

Ini bukan hal baru, hampir setiap hari selama setengah tahun terakhir, saya menemukan dan menegur mahasiswa yang tidak menghormati etika perpustakaan, apakah yang mengobrol dengan suara kencang, yang menyetel musik, main game (semuanya tanpa earphone), ataupun yang menonton film secara berjamaah sambil tertawa terbahak-bahak bak sedang menonton layar tancep.

Kondisi ini tentu menyedihkan. Sepertinya kepekaan sosial sudah mulai luntur dari pribadi anak-anak jaman sekarang. Banyak dari mereka yang menjadi makhluk-makhluk individualis yang tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya.

Minggu lalu, saya mengikuti “diskusi sore” di perpustakaan ITB yang berjudul, “Pesan Bagi Warga Republik”, yang diadakan oleh Moedomo Learning Initiatives (MLI). Pembicaranya adalah Gigay Citta Acikgen (Gea), mahasiswa tingkat II jurusan filsafat UI yang esai-nya, “Jika Aku Menjadi Menteri Pendidikan”, terpilih menjadi naskah terbaik Kompetisi Esai Mahasiswa Menjadi Indonesia 2012 yang diadakan oleh Tempo.

Di tengah-tengah keprihatinan akan sikap dan mentalitas generasi muda kita, muncul tokoh-tokoh muda inspiratif seperti Gea yang memiliki kepedulian terhadap negeri ini. Sore itu ia berujar,

“Kebanyakan dari kita sepertinya hanya sebatas “tahu” saja terhadap jutaan permasalahan yang ada di hadapan kita, tapi tidak tergerak untuk melakukan aksi kongkrit untuk memperbaiknya. Kita seharusnya tidak diam, tetapi turun tangan ikut membantu memecahkan permasalahan yang ada di bangsa ini.”

Pernyataan dari Gea ini ibarat seteguk air di padang pasir. Saya pun ikut meramaikan diskusi dan mengemukakan keprihatinan saya akan tingkah-laku sebagian mahasiswa ITB yang tidak punya kepekaan sosial dan tata krama.

“Mereka itu, jangankan berkeinginan untuk memperbaiki masalah-masalah yang melanda bangsa ini, terhadap orang di sebelah saja mereka tidak peduli. Setelah satu minggu dibuat jengkel, dengan kelakuan mahasiswa-mahasiswa ITB di perpustakaan, hari ini optimisme dan harapan saya kembali bangkit. Saya sangat bangga dengan tokoh-tokoh muda seperti Gea. Anak-anak muda seperti Gea inilah sesungguhnya harapan kita di masa depan.”

Namun “tampaknya” ada satu atau dua hadirin yang kelihatannya tidak suka dengan kritikan-kritikan saya terhadap mahasiswa ITB. Tampaknya mereka tidak terlalu suka mahasiswa ITB dijelek-jelekkan (apalagi di situ ada Gea, yang notabene mahasiswa UI, yang saya sanjung-sanjung terus). Sikap seperti inilah yang harus direformasi dari kepala sebagian alumni ITB. Justeru karena saya peduli dengan almamater saya, maka saya ungkapkan keburukan-keburukan mahasiswa ITB, agar kita bisa meng-introspeksi diri dan memperbaikinya. Kalau saya diam saja melihat segala ketidakberesan ini, secara tidak langsung saya ikut menjerumuskannya.

Gejala mengkhawatirkan lainnya adalah menurunnya budaya sopan-santun pada generasi muda sekarang. Sebagai bangsa timur, kita memiliki tata krama ketika berbicara kepada yang lebih tua, lewat di hadapan yang lebih tua, berbicara kepada wanita, dsb.  Seorang profesor (di perguruan tinggi sebelah) pernah bercerita kepada saya, suatu ketika dia menemukan bekas bakar-bakaran di halaman kampus. Dia pun memanggil satpam untuk membersihkannya. Satpam tersebut berujar bahwa ia akan mencari rekan-rekannya yang bekerja tadi malam karena kemungkinan merekalah yang melakukannya. Sore hari, selepas kuliah, sang profesor masih menemukan bekas bakaran-bakaranan tersebut, dia pun memanggil satpam,

“Mengapa ini kok tidak dibersihkan?” ujarnya.

Pak satpam pun menjawab, “Ternyata yang melakukan bakar-bakaran ini adalah anak-anak mahasiswa”.

“Kalau begitu suruh mereka membersihkan!”

“Sudah saya beritahu pak, tapi jawabannya, ‘Saya kan bayar di sini’!”

Benar-benar memprihatinkan, mereka pikir dengan bayar mereka bisa berbuat seenaknya.

Yah begitulah potret mahasiswa jaman sekarang yang serba cuek, tidak peduli lingkungan sekitar dan rendah sopan-santunnya. Kalau para mahasiswa seperti ini yang akan memimpin negara di masa datang, tidaklah mengherankan jika negara akan tetap carut marut seperti sekarang. Kalau ketika mahasiswa saja mereka “cuek”, tidak peduli terhadap orang di sebelahnya, bagaimana mungkin 20 – 30 tahun lagi, ketika mereka menempati jabatan-jabatan strategis di negara ini, mereka akan ingat kepada rakyat kecil, kepada orang miskin, kepada warga yang lemah, yang teraniaya, dan sebagainya.

Jangan salah, mahasiswa-mahasiswa ini bukan mahasiswa kelas teri, banyak dari mereka yang memiliki IPK yang tinggi. Namun jika indikator keberhasilan mahasiswa hanyalah mendapatkan IPK yang tinggi, maka almamater saya ini hanya akan mencetak sarjana-sarjana pintar tanpa peduli apakah mereka memiliki karakter atau tidak. Mungkin inilah mengapa korupsi di negara ini begitu marak. Menteri korupsi, anggota DPR korupsi, gubernur korupsi, walikota korupsi, bahkan profesor dan ustad pun ikut korupsi. Sesungguhnya negara ini tidak kekurangan orang pintar. Orang pintar itu banyak, tapi orang yang berakhlak, orang yang memiliki integritas dan jujur, itu yang langka!

Tidak salah, SMA saya dulu memilih motto, “Knowledge is Power but Character is More“. Baru sekarang saya paham betapa dalamnya filosofi di balik motto tersebut.

~dari lantai 3 perpus ITB~

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lagi2… mereka membuat saya iri!

lok_kupang

Setelah satu minggu dibuat miris dengan kelakuan banyak mahasiswa ITB - yg katanya merupakan generasi harapan bangsa, calon2 pemimpin Indonesia di masa depan – yang serba cuek, individualis dan beberapa bahkan tidak tahu sopan santun (baca http://www.facebook.com/notes/maulana-m-syuhada/knowledge-is-power-but-character-is-more/10151616656937238).  Hari ini optimisme saya bergelora lagi – lagi2, setelah nonton Kick Andy – setelah melihat bagaimana perjuangan saudara-saudara kita di NTT yang penuh dengan ketulusan mengabdi demi kemajuan masyarakatnya tanpa pamrih. Sebut saja, Pa Jony yang memilih keluar dari kehidupan nyamannya, keluar dari pekerjaannya sebagai PNS, sebagai dosen di Kupang, dan memilih tinggal di desa yang sangat terpencil (perlu waktu 6 jam dan medan yg berat utk mencapai desa ini dari Kupang), mendirikan sekolah, Pusat Kegiatan Belajar Mengajar untuk mencerdaskan dan meningkatkan taraf hidup warga desa, atau Ibu Ita yang mendirikan posyandu dan sekolah dasar padahal dirinya sendiri tak lulus SD, atau kumpulan anak2 muda geng motor yang aktifitasnya menjelajahi desa2 di NTT untuk memberikan pelatihan pertanian dan peternakan, menerapkan teknologi tepat guna yang mereka dapat dari kampus.

Berbeda dengan Hary Tanoesudibjo yang hampir tiap hari fotonya (atau foto isterinya, atau perindo atau hanura) yang lagi bagi2 sembako dll, nampang di koran Sindo, mereka di NTT ini amat sangat jauh dari hingar bingar liputan media massa. Karena memang bukan itu yang mereka cari. Mereka bekerja dari hati, sukarela, tanpa pamrih, swadaya tanpa ada satu perakpun bantuan dari pemerintah. Di sunyinya desa terpencil, mereka terus berjuang tanpa mengenal lelah. Kadang orang berpikir, kok mau2nya mereka berkorban, dan menderita seperti itu, bahkan Ibu Ita ketika melakukan penyuntikan imunisasi pertama ke balita di kampungnya sempat diancam warga dengan parang karena dianggap membahayakan anak2 mereka, tapi dia tigak gentar. Dengan sabar dan tanpa kenal lelah, beliau terus berjuang guna meningkatkan taraf kesehatan anak2 di desanya. Percayalah kawan para pejuang2 ini tidak sedang menderita, justeru mereka sedang menjalani kehidupan yang bahagia, bahagia dalam arti sesungguhnya, bahagia ketika mereka bisa berbuat sesuatu bagi orang lain, bisa berguna bagi orang lain, bisa mencerdaskan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat, pendeknya mereka bisa membuat orang lain menjadi bahagia. Itulah hakikat kebahagiaan sesungguhnya.

Di tengah carut-marutnya kepemimpinan negeri ini, ternyata masih banyak energi positif super besar yang dimiliki bangsa ini. Saya yakin masih banyak Pa Joni – Pa Joni dan Ibu Ita – Ibu Ita lainnya yang tengah berjuang di pelosok2 daerah dari Sabang sampai Merauke. Tapi mereka jauh dari liputan media, dan memang mereka tidak mengharapkan liputan media, pujian, piala, dsb. (apalagi sampai masang foto2 bagi2 sembako untuk promosi diri seperti Hayry Tanoe dan pembesar2 lainnya yang gila pencitraan). Mereka ini bekerja dengan hati, kebahagiaan mereka adalah ketika melihat warga desanya maju, warga desanya bisa bersekolah, warga desanya bisa membaca, berhitung, bisa bertani dan berternak dengan baik, ketika harkat, martabat, kesejahteraan warganya terangkat.

Optimisme saya akan negeri ini kembali bergelora!

Jadi teringat, ketika saya dicolek Mba Vina Adriani waktu saya bingung, jumat malem pilih nonton kickandy atau x-factor. Emang keterlaluan saya, berani2nya membanding2kan kick Andy dengan produk imperialis Amerika macam x-factor. Yah, namanya juga manusia kadang bener, kadang salah, asal jangan kebanyakan aja salahnya :) (walau demikian saya tetap dukung Fatin! ;)

Jadi teman… optimislah!
Mungkin kita belum bisa seperti mereka… tapi minimal… kita tidak kehilangan optimisme… minimal kita ikut bahagia dengan apa yang telah mereka lakukan… dan mudah2an suatu hari kita bisa berbuat seperti mereka…

Yang jelas saya pribadi, dibalik kebahagiaan dan kebanggaan saya melihat perjuangan2 saudara2 kita di NTT, saya amat sangat sangat sangaaaaaaaat iri sekali dengan semua pencapaian mereka… Rasanya kok… saya ini jauh sekali belum bisa berbuat apa2…

Mudah2an perasaan iri ini jadi langkah awal untuk bisa meneladani mereka, dan berbuat sesuatu yang kongkrit yang bisa bermanfaat bagi masyarakat…

Jadi tetap optimis

dan mari bergerak…!

~ bukan dari lantai 3 perpus itb, karena di perpus ga bisa nonton Kick Andy :) ~

Posted in Social and Community | Leave a comment

Jujur Itu Keren!

jujur5

Ternyata video Save Maryam itu ada yang versi Perancis-nya juga. Dan menariknya, video ini diposting oleh sebuah akun dengan nama, “MrAlgerienCatholique” dengan judul, “Indonesia tidak akan lagi menjadi negara mayoritas muslim pada 2035: 2 juta orang Indonesia keluar dari islam per-tahun” (L’Indonésie ne sera plus musulmane en 2035 : 2 000 000 D’INDONESIENS QUITTENT L’ISLAM PAR AN).
http://www.youtube.com/watch?v=H018SlMYSZQ&feature=share&list=PL2D0E05DEE13CD909

Setelah saya cek, ternyata hanya judulnya saja yang bahasa perancis, tetapi isinya malah Bahasa Arab. Mungkin karena orang2 Algeria itu bilingual, Arab dan Perancis, maka tak aneh judulnya Perancis, tapi isinya bahasa Arab. Lain halnya, dengan video “Save Maryam Campaign – Portuguese”. Kalau ini benar2 video Save Maryam dengan menggunakan subtitel bahasa portugis, http://youtu.be/X6aZ0bbwuzo. Video ini dipublish oleh sebuah akun bernama, “ChristForEveryone”. Jadi tampaknya, orang2 yang merasa diuntungkan dengan video ini, dengan serta merta menerjemahkan video ini ke bahasa mereka.

Jadi tampaknya teman2 evangelist ini sangat terbantu dengan video #SaveMaryam, karena ini bisa dijadikan alat kampanye mereka yang ampuh untuk meyakinkan publik bahwa trend sekarang adalah pindah dari Muslim ke Kristen seperti yang ada di video #SaveMaryam.

Selain video di atas, saya juga pernah beberapa kali membaca blog/tweet dari kaum evangelist yang sangat senang dengan keberadaan video #SaveMaryam, dan dengan senang hati ikut menyebarkannya. Seperti blog berikut: http://international.sojournchurch.com/?p=3765

Nah ketika membuat video #SaveMaryam, si Mercy Mission kan tidak pernah berpikir panjang sampe ke situ. Mangkanya sudahlah, jangan pernah berbohong (untuk tujuan apapun), patuhi saja prinsip islam dalam berdakwah. Islam menjunjung tinggi kejujuran dalam segala aspek kehidupan, termasuk berdakwah, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW dengan sifat Al-Amien-nya. Insya Allah, kalau kita jujur, Allah akan ridho, dan hati kita pun akan tenang. Amieeen…

Sementara orang yang berbohong, dan orang yang ikut membela kebohongan tersebut, bahkan ikut menyebarkannya, tentu hatinya tidak akan tenang. Kebohongan tidak akan membawa kita kepada kebaikan; kebohongan tidak akan mendatangkan berkah kepada hidup kita; kebohongan hanya akan membawa kita pada malapetaka.

Mungkin runyamnya negeri ini dengan berbagai permasalahannya karena kita mentolelir kebohongan, melihatnya sebagai sesuatu yang wajar, bahkan ikut mempraktekannya, sehingga ketidakjujuran sudah mengakar di berbagai sendi kehidupan, dan terlihat sebagai sesuatu yang biasa dan wajar.

Karenanya mari kita membudayakan hidup jujur!
Mungkin perlu juga dibuat semboyan yang lebih meremaja seperti, “JUJUR ITU KEREN!”
Jauh lebih keren dari pinter, dari kaya, dari cantik, dari ganteng, dari etc. etc. etc. ^_^

Kalau sejak kecil, sudah tertanam di anak2 kita bahwa jujur itu keren. Maka mereka akan merasa keren dengan berbuat jujur, jauh lebih keren dari cuma sekedar pinter doang, apalagi cuma kaya doang, atau cantik doang. Dan kalau mereka berbuat tidak jujur, mereka akan merasa tidak keren ^_^

Kan asik kalau percakapan yang terjadi di anak2 kita itu seperti, “Ga asik lu ah, ga jujur, ga keren!” ^_^

Tapi kalau anak2 kita mau jujur, berarti orang tuanya dulu yang mesti jujur :)

~dari lantai 3 perpus itb~

Posted in Save Maryam, Social and Community | Leave a comment

Knowledge is Power but Character is More!

alay1

Anak-anak sekarang kok cenderung “cuek”, tidak peka lingkungan dan rendah  kesopanannya ya? Saya pikir ini cuma terjadi pada ABG2 SMP-SMA saja, tapi ternyata mahasiswa2pun banyak yang bertingkah laku serupa, bahkan dari kampus ternama sekalipun.

Sejak mesantren di perpus ITB, sudah banyak kejadian yang membuat saya prihatin akan karakter anak-anak muda jaman sekarang.

Pernah suatu ketika, saya sedang enak2 kerja di sudut perpus, tiba2 ada suara musik kenceng dari meja di seberang. Terus terang saya kaget, pertama kali dalam sejarah saya mendengar orang membunyikan musik di perpustakaan. Langsung saya tegur dari meja saya,
“Mas, bisa ga volumenya dikecilin?”
Anak ini nyantei aja, seolah tidak terjadi apa2 (taunya dia pake earphone dengan volume yg super tinggi, mangkanya ga kedengeran).  Baru setelah dikasih tahu temen sebelahnya, dia lepas.
Kata temennya “Tuh, kan apa kata gue juga!”
Tanpa ada satu patah katapun (apalagi minta maaf), dia kecilkan musiknya, setelah itu sudah lempeng saja (seolah tak terjadi apa2).

Lain waktu, seorang anak datang dan duduk persis di meja depan saya, buka laptop dan langsung nyetel youtube. Karena tidak pakai earphone, suara langsung datang dari speaker dan jelas terdengar oleh semua orang yang duduk di “section” tersebut. Langsung saya tegur, “Mas, bisa pake earphone engga?”
Diapun menjawab, “Ga ada!” (tanpa sama sekali ekspresi bersalah).
Dengan cueknya dia terusin nonton youtube. Baru setelah saya memperlihat gesture sangat terganggu (baca: naga2 akan ngamuk) baru dia me-mute-kan laptopnya. Dan beberapa saat kemudian pindah.

Saya juga sering sekali terganggu dengan mahasiswa yang ribut, ngobrol ga karuan di perpus. Kalau ngobrolnya masalah pelajaran, masih saya maklumi, tapi kalau udah topik sama sekali ga penting, ini benar2 mengganggu. Mungkin karena perpus ITB sudah direnovasi besar2an dan menjadi nyaman dan ber-AC, jadilah ia alternatif tempat nongkrong anak2, mulai dari nonton film kartun bareng2 sampe tempat pacaran. Dan anak2 sekarang kalo pacaran sangat berani dan ga malu bermesra2an di depan umum. Jangan salah, busana boleh berjilbab, tapi mesra2an, pegang2an, sampai tidur2an di pundak jadi hal yang biasa. Jadi jilbab itu bukan jaminan.

Malam kemaren, kesabaran saya habis. Menjelang magrib, datang sepasang mahasiswa, dan duduk di meja seberang. Setelah buka lapotp, mereka langsung ngobrol kenceng sambil ketawa cekikian. Topiknya sama sekali bukan pelajaran, topik2 ABG ga penting. Seperempat jam berlalu, saya ga bisa konsentrasi dengan kerjaan. Seorang mahasiswa yang duduk di seberang juga pindah duduknya ke dekat saya karena terganggu. Akhirnya saya tegur dari meja saya,
“Mas, bisa ga suaranya dipelanin!”
“Oh iya” (jawabnya singkat, tanpa ada rasa malu sedikitpun).
Suara pun mulai pelan.

Tapi setelah 15 menitan, suara mulai kembali ke volume semula, disertai dengan ketawa2 cekikikan. Habis kesabaran saya, akhirnya saya datangi mejanya.
“Kamu angkatan berapa?” (dengan tampang swasta judes yang siap ngospek).
Merasa kaget, diapun langsung membenarkan posisi duduk, dan menurunkan kakinya yang tadinya ditaruh di kursi.
Sambil membungkuk2an kepala, dia menjawab,
“2010″
“Kamu tahu ini perpustakaan?
“Iya maaf”
“Kamu lihat, semua orang di sini kerja, cuma kamu berdua yang ngobrol sambil ketawa2″
“Iya, maaf kang”
“Anak ITB itu bukan cuma dituntut pintar saja, tapi juga harus peka dengan lingkungan sekitar. Percuma kamu lulus ITB kalau cuma otaknya aja yang pintar tapi ga punya kepekaan, jadinya nanti akan sama dengan pemimpin2 kita yang ga punya kepekaan sosial.”
“Iya kang!”
Saya pun pergi ke bawah untuk sholat Maghrib.

*) satu kredit point buat dia, dia manggil saya “Kang” :) Untuk pertama kalinya di lingkungan ITB saya dipanggil Kang :) (biasanya “Mas” atau malah “Bapak”, hehehe…. mungkin karena tampang juga udah bapa2 sekarang :DD)

Terus terang saya kok prihatin ya dengan karakter anak2 sekarang. Saya jadi inget semboyan waktu di SMA dulu, “Knowledge is power, but character is more!” Dan itu yang saya pegang sampe sekarang. Saya jauh lebih menghargai orang2 yang punya karakter (akhlak) (terlepas dari kecerdasan otaknya), daripada orang2 pintar yang ga berkarakter.

Kalau saya dikasih kesempatan untuk mengabdi di bidang pendidikan, maka saya akan menekankan pada pembangunan karakter, dibanding dengan sibuk mencetak orang2 berotak pintar tapi tak punya karakter.

~dari lantai 3 perpus itb~

Posted in Social and Community | Leave a comment

Gue galau masa!

galau-r3

Ada yg menarik dari pertanyaan pemirsa di book review #MaryamMenggugat di RRI PRO 2 FM JOGJA tadi malam, “Kenapa mesti Maryam?”.

Pertanyaan ini mengingatkan saya akan pertanyaan seorang mahasiswi sehabis diskusi buku #MaryamMenggugat di Masjid Mujahidin, Bandung.

“Kenapa mesti maryam, kenapa mesti perempuan, apakah karena perempuan itu lemah, mudah diperdaya, rentan pindah agama, dsb., sehingga harus Save Maryam, bukan yang lainnya (mungkin maksudnya Save Ibrahim atau Save Tawfique :D)? Kenapa kok, perempuan yang jadi simbol, etc. etc., ?”

“Tenang… tenang…. mba…! Yang buat Save Maryam itu kan Mercy Mission, bukan saya. Jadi jangan saya dong yang dimarahin. Langsung aja protesnya ke Mercy Mission, kalau perlu demo di depan kantornya!” ^_^

Pertanyaan yang sangat bagus dan kritis! Tapi ini pertanyaan mestinya ditujukan ke Mercy Mission karena merekalah yang membuat Save Maryam. Secara implisit MercyMission (MM) telah menstereotipkan bahwa wanita itu lemah, rentan,dsb. Sehingga dipilihlah Maryam sebagai simbol remaja yang galau. Padahal galau itu bisa melanda siapa saja, bukan hanya perempuan, laki-laki juga bisa galau. Dan bukan remaja saja, tapi orang dewasa bahkan kakek2, nenek2 pun bisa galau :)

Lha wong, Syeikh-nya Mercy Mission juga bisa galau. Syeikh Tawfique Chowdury (Direktur Mercy Mission), ketika tahu bahwa yang menulis artikel yang mencounter Save Maryam itu hanya seorang pemain angklung, langsung menjadi galau-suralau. Saking galau-nya, dia pun menulis di fb-nya:

“Very strange world we live in. A person has been writing articles against Save Maryam by the name of Maulana and all this time we have been thinking he is a respected Islamic authority in Indonesia due to his name Maulana. Today someone tells us, he is actually a musician. Wallahi very strange world we live in!”

Jadi bukan cuma ABG saja yang bisa terkena sindrom galau, tapi Syeikh kelas dunia juga bisa galau, bahkan presiden suatu negara juga bisa galau :) (dan bahkan curhat di tv nasional :D). Ja ja ja… very strange world we live in! ^_^

Ngomong2 masalah galau, pagi ini ada seorang pemuda anonim yang galau (dengan nama twitter

@yok_ayok) dan membanjiri wall saya dengan tweets2-nya. Ini sudah keempat kalinya dia membanjiri wall saya. Pernah saya ladeni, tapi ternyata ngomong sama orang galau itu susah nyambungnya. Daripada ketularan galau, akhirnya ga pernah saya jawab lagi.

Inilah contoh salah satu sifat negatif yg masih berkembang di masyarakat. Ketika mendapat informasi sepotong, bukan dicek dan recek, dan dipelajari. Tapi malah langsung menyimpulkan, menuduh, dsb., padahal apa yg dituduhkan bukan saja tidak benar, tapi ga nyambung.

Disitulah pentingnya bersifat elegan, mendengar, memahami, mempelajari, mencek-recek sesuatu, sehingga kita tidak reaktif, tidak mudah terprovokasi dan akhirnya galau…

Karena galau itu bukan hanya merugikan diri sendiri, tapi juga merugikan orang lain ;)

Apalagi kalau sampai presiden yang galau, rakyat satu negara jadi korban :)

Mari bebaskan diri kita dari kegalauan!
~dari lantai tiga perpus itb yang aman dari kegalauan~

ps: oh iya, yang belum tahu twitter saya, @maulanasyuhada. Barangkali penasaran dengan twitter galau yang membanjiri wall saya ;)

th8-1

Posted in Save Maryam, Social and Community | Leave a comment

Curhat setelah nonton Ainun dan Habibie :)

ainun dan habibie6

Peringatan: Awas ini isinya curhat! :)

Waktu kembali menginjakkan kaki di Jerman (setelah pindah ke Inggris), entah mengapa sekujur tubuh ini jadi merinding. Begitu mendarat di Hamburg dan mendengar pengumuman petugas bandara dalam bahasa Jerman, rasanya langsung hawa Jerman itu masuk ke seluruh tubuh. Dari bandara saya naik bus ke stasiun Ohlsdorf. Di sana ketika menunggu U-Bahn (metro/subway) tiba2 potret2 kehidupan saya di Jerman dulu seakan2 masuk menari-nari lagi dalam kepala. Bunyi U-Bahn yang datang, terasa tembus sampai ke alam bawah sadar. Di dalam kereta itu, saya menerawang ke pemandangan kota Hamburg dari jendela. Satu demi satu kisah-kisah hidup saya selama empat tahun di Jerman itu masuk lagi dalam ingatan, saat2 susah, saat2 senang, saat2 tidak punya uang, saat2 menerima gaji pertama, saat2 masuk ruang kuliah untuk pertama kalinya, saat2 makan donner segede gaban, saat bermain angklung, gamelan, kendang wayang kulit, saat2 kerja kuli, saat2 kehilangan pekerjaan, suka, duka, senang, sedih, cape, gembira, haru, rindu, semua perasaan bercampur aduk jadi satu, sampai akhirnya air mata ini tak tertahankan lagi. Saya tak peduli dengan penumpang lain, saya menangis di dalam kereta sambil terus memandangi pemandangan kota Hamburg dari jendela. Ya Allah, ternyata susah itu indah, bahagia itu indah, cape itu indah, sedih itu indah, semuanya terlihat indah. Hamburg bagi saya adalah kampung halaman kedua, setelah Bandung. Ikatan emosional saya dengan kota ini begitu kuat. Kota ini terlalu banyak menyimpan kenangan indah perjuangan hidup saya di Jerman. Entah kapan saya bisa dapat kesempatan kembali ke sana, setidaknya untuk bernostalgia lagi.

Kemarin, sewaktu nonton film Ainun dan Habibie, ketika sudut2 kota Aachen tampil di layar, ketika bahasa Jerman tampil memenuhi percakapan2 di film, tiba2 perasaan yang pernah saya alami di kereta beberapa tahun lalu itu kembali hadir, tubuh saya merinding, ingatan saya menembus waktu kembali ke masa2 di Jerman dulu. Emosi itu terus menyelimuti saya sepanjang film. Puncaknya ketika N-250 lepas landas terbang ke udara, emosi saya tak terbendung, mata saya berkaca-kaca (ingin rasanya nangis, tapi malu dengan orang2 di sebelah). Haru, bangga dan sedih bercampur jadi satu. Saya terharu dengan perjuangan dan kegigihan Habibie, saya bangga menjadi bangsa Indonesia, tapi saya sedih dan marah terhadap negara ini, hati ini tidak terima mengapa anak bangsa seperti Habibie diperlakukan seperti itu oleh negaranya sendiri. Hanggar pesawat yang kosong seolah menjadi simbol perlakuan negara ini terhadap salah satu putera terbaiknya.

Mudah2an film ini bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda, hingga Indonesia bisa melahirkan banyak habibie2 lainnya di masa datang. Dan juga, mudah2an negara ini bisa belajar dari kesalahan, bisa menghargai putera-puteri bangsa yang punya komitmen dan dedikasi untuk kemajuan bangsanya.

Film ini punya tempat tersendiri di hati saya. Walaupun saya hanya seorang pekerja kuli gudang waktu di Jerman dulu yang kebetulan bisa kuliah juga, tapi itu semua cukup untuk mengembalikan kenangan2 indah masa2 di Jerman dahulu. Ternyata semuanya tergantung pada diri kita sendiri. Hidup akan indah, kalau kita membuatnya menjadi indah, apapun itu! :)

Edisi curhat malem2 setelah nonton Ainun dan Habibie :)

Posted in Film | Tagged | 2 Comments

Peluncuran Buku MARYAM MENGGUGAT

maryam 3d (500x500)

Diskusi dan Peluncuran Buku Maryam Menggugat: Menguak Propaganda Save Maryam

Hari, tanggal : Jumat, 1 Februari 2013
Waktu          : 13.00 – 15/00 WIB
Tempat        : Masjid Salman ITB

Pembicara    : Maulana M. Syuhada (penulis), Dr. Zainal Abidin Bagir (Direktur Program Studi Agama dan Lintas Budaya / Centre For Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), UGM)

Acara ini terbuka untuk umum. Silahkan datang dan disebarkan seluas-luasnya.

twitter: @maulanasyuhada #SaveMaryam #MaryamMenggugat
facebook: www.facebook.com/MyNameIsUdin
situs: www.saveudin.org

Teaser:

Posted in Save Maryam | Leave a comment

[#9] #SaveMaryam dan Potensi Konflik Antar Umat Bergama di Indonesia

#SaveMaryam dan Potensi Konflik Antar Umat Bergama di Indonesia
Oleh Maulana M. Syuhada
5 Agustus 2012

Setelah menonton video SaveMaryam yg begitu vulgar dan bombastis, reaksi pertama saya yang muncul adalah marah kepada Mercy Mission karena fakta-fakta yang didramatisir; kedua, malu kepada teman-teman Kristiani dan agama lainnya (kok bisa2nya sebuah agama yg katanya cinta damai menggunakan cara vulgar dan provokatif dalam dakwah-nya); dan ketiga, khawatir akan terjadi konflik antar umat beragama dan radikalisasi.

Saya sudah bicara panjang lebar bagaimana kampanye SaveMaryam ini benar-benar menghina umat Islam Indonesia yang dianggap bodoh dan naif sehingga 2 juta orang murtad per-tahun sampai tidak tahu; tidak mengerti agama sehingga perlu diimpor Syeikh-Syeikh dari luar negeri; tidak terpelajar sehingga hanya diberi sedikit tabel excel saja akan langsung terkesima wah; “kuper” sehingga pasti akan takjub dengan laporan ngawur asalkan ditulis dalam bahasa Inggris; mudah dihasut sehingga pasti mendukung kampanye yang memojokkan umat Kristen.

Ternyata asumsi Mercy Mission itu salah. Mereka tidak tahu kalau intelektual-intlektual kita bukan hanya tersebar dari sabang sampai Merauke, tapi juga dari Boston, Amerika Serikat sampe Canberra, Australia, dari Sandvika, Norwegia, sampai Malangbong City, Garut.

Lantas bagaimana dengan teman-teman Kristiani?

Sudah lama saya ingin menulis tentang ini, hanya belum sempat saja. Terus terang saya benar-benar malu begitu melihat video ini. Yang pertama terbayang di kepala saya adalah teman-teman Kristiani yang selama ini menjadi sahabat saya, baik itu teman kuliah, teman angklung, teman dulu di SMA, dan lain-lainnya. Selama ini kita hidup berdampingan dengan harmonis, berteman dan berinteraksi tanpa terhalang batas agama.

Baru saja bulan April yang lalu teman-teman Muslim dan Kristen bahu-membahu menyelenggarakan Indonesian Cultural Night (ICN) di Manchester, sebuah acara kultur yang cukup besar yang membutuhkan kerja sama tim dan semangat kebersamaan yang tinggi. Kami bekerja bersama, menyiapkan acara bersama, berlatih seni bersama untuk mengisi acara ICN tanpa menyandang atribut agama. Yang ada adalah atribut bahwa kami sama-sama pelajar Indonesia.

Video SaveMaryam berpotensi merusak hubungan harmonis antar umat beragama yang telah kita nikmati bersama ini. Walaupun demikian, untuk kaum terdidik, seperti pelajar-pelajar di Manchester, hubungan baik sesama pelajar yang berbeda agama tidak akan terprovokasi. Interaksi akan terus berjalan normal seperti biasa. Teman-teman di Manchester sudah cukup dewasa untuk menyikapi video hasutan yang berpotensi memecah belah bangsa ini.

Salah satu alasan mengapa saya langsung menulis “notes” menentang SaveMaryam, diantaranya adalah untuk menunjukkan kepada teman-teman Kristiani bahwa cara-cara vulgar, manipulatif dan provokatif yang dilakukan Mercy Mission bertentangan dengan ajaran Islam dan bukanlah bagian dari atribut Muslim. Itu hanya kelakuan sesat sebagian kecil Muslim yang beraliran ekstrim.

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa toleransi antar umat beragama merupakan bagian integral dalam ajaran Islam. Pada zaman Nabi Muhammad S.A.W, semua penduduk diberi jaminan untuk dapat melaksanan ajaran agamanya masing-masing, bahkan setiap individu warga Madinah kala itu, terlepas apakah dia muslim, yahudi, nashrani dsb., diberi proteksi keamanan penuh oleh pemerintah dari serangan musuh dari luar. Setiap warga memiliki kedudukan yang sama dalam hukum, dan dijamin hak asasinya.

Ada sebuah cerita yang cukup masyhur di zaman kekhalifan Ali bin Abi Thalib, ketika seorang Yahudi yang dituduh mencuri baju perang Ali diseret ke pengadilan. Walaupun Khalifah Ali, sang kepala negara, tahu bahwa orang Yahudi inilah pencurinya, namun karena tidak cukup bukti, orang Yahudi tersebut bebas secara hukum. Melihat keadilan ini, Yahudi tersebut mengaku mengambil baju perang tersebut dan mengembalikannya kepada Khalifah Ali. Ini menunjukkan bahwa setiap warga negara punya kedudukan yang sama di mata hukum tanpa mengenal jabatan, suku dan agama, tidak peduli apakah sang penggugat orang nomor satu di negara tersebut, seorang muslim terpandang, berada di negara Islam, dan si tertuduh adalah seorang yahudi kelas papa, semuanya sederajat di mata hukum.

Hal senada disampaikanl oleh Irfan Amalee, pendiri Peace Generation Indonesia yang juga mantan CEO Mizan Pelangi, yang tengah melakukan studi S2 Persamaian di Boston, Amerika Serikat, dalam tulisannya yang berjudul “Dakwah dengan Kasih Sayang, Bukan Ketakutan & Kebencian”. Berikut kutipannya:

“Mengapa kita harus berdakwah sambil memupuk kebencian pada umat atau bangsa lain. Ya, kita punya masalah ancaman akidah, terutama di kalangan muda, tapi mengapa kita harus mengarahkan telunjuk seolah mengatakan bahwa penyebabanya adalah “mereka yang di luar sana”.

Kebohongan dan maipulasi data setidaknya menimbulkan tiga efek yang fatal bagi umat Islam sendiri. Pertama, orang akan melihat umat Islam sebagai pemanipulasi data demi mencapai tujuan. Gambaran ini sungguh menyakitkan di tengah usaha sebagian umat Islam untuk mempebaiki citra umat di mata dunia. Kedua, dunia memandang bahwa umat Islam sangat mudah diperdaya dan diprovokasi oleh informasi palsu. Kita tak punya budaya kritis dan teliti dalam mencerna informasi. Padahal Allah telah memerintahkan kita agar selalu tabayyun (check and recheck sebelum mempercayainya dan menyebarkannya) jika mendapat sebuah informasi.”  [1]

Lain di Manchester, lain Indonesia. Kalau di Manchester, teman-teman pelajar dari kedua agama dapat menyikapi video SaveMaryam dengan dewasa, di tanah air kita, terutama di tempat-tempat rawan konflik, seperti Bekasi misalnya, video ini bisa memprovokasi kelompok Islam garis keras. Kita semua sudah sama-sama menyaksikan bagaimana kota Bekasi kerap menjadi lahan pertarungan antara dua kubu haluan keras Islam dan Kristen.

Adalah sebuah ironi bahwa laporan ICG (International Crisis Group) tahun 2010 yang berjudul “Christianisation and Intolerance” [2] yang dijadikan rujukan utama Mercy Mission dalam menjustifikasi program #SaveMaryam ternyata adalah sebuah laporan yang memapakarkan bagaiman toleransi beragama di Indonesia semakin menurun sejalan dengan meningkatnya konflik antara kelompok garis keras Islam dengan beberapa organisasi penginjil (evangelist) yang giat melakukan kristenisasi di Bekasi. Dalam laporannya, ICG menyebutkan bahwa pihak muslim menggunakan isu “Kristenisasi” sebagai alasan untuk aksi mobilisasi massa dan main hakim sendiri.

“Ketegangan yang disebabkan oleh bentrokan antara dua “fundamentalisme” (Islam dan Kristen) ini sangat terlihat di Bekasi, dimana sejumlah sengketa sejak tahun 2008 mengenai pembangunan gereja, tuduhan adanya upaya baptis masal serta penghinaan terhadap Islam telah memicu terjadinya beberapa kasus kekerasan. Pemerintah perlu strategi untuk menangani intoleransi beragama yang semakin meningkat. Tanpa strategi yang jelas, penghakiman massa yang menang. Biasanya pejabat daerah baru akan menangani kasus ketika insiden itu sudah lepas kendali dan biasanya para pejabat menyerah kepada kelompok yang paling nyaring suaranya. Setiap kali terjadi, pihak yang menang menjadi semakin berani berkonfrontasi.”  [2], [3]

Dalam paragraf lain ICG juga memaparkan:

“Diantara banyak alasan mengenai pentingnya mengembangkan sebuah strategi untuk mengurangi ketegangan antar agama, yang juga perlu mendapat perhatian khusus adalah : Isu “Kristenisasi” mungkin bisa membuat kelompok agama yang sebelumnya berjuang tanpa kekerasan bekerjasama dengan para ekstrimis yang violent.“  [2],[3]

Alih-alih ikut membantu menyelesaikan masalah, meredam konflik dan mempromosikan toleransi dan perdamaian, Mercy Mission malah menyiramkan bensin ke bara api. Oleh karenanya tak heran jika ICG menuduh SaveMaryam melakukan tindakan yang justeru semakin memperdalam konflik:

„ ICG concludes by urging the Indonesian government to undertake a series of steps to nurture religious tolerance. Your distortion of our report suggests that you are trying to do exactly the opposite.”  (Sidney Jones, International Crisis Group: Senior Adviser, Asia Program, Jakarta) [4]

Distorsi dan pemelintiran fakta yang dilakukan oleh Mercy Mission sudah dalam skala yang sangat serius. Mercy Mission memutarbalikkan fakta laporan ICG yang sangat khawatir akan kondisi toleransi agama di Indonesia dan mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan tegas untuk meredam konflik agama, menjadi sebuah kampanye yang memprovokasi konflik antar umat Islam dan Kristen dengan mengarang angka 2 juta pertahun dan menghasut umat Islam bahwa di tahun 2035 mereka akan kehilangan mayoritasnya akibat gerakan kristenisasi.

Kampany #SaveMaryam ini bukan hanya berpotensi memecah belah rakyat Indonesia, tapi juga berpotensi memecah belah umat Islam. Sebagaimana disebutkan dalam laporang ICG tersebut, bahwa isu “Kristenisasi” bisa membuat kelompok agama yang sebelumnya berjuang tanpa kekerasan bekerjasama dengan para ekstrimis yang violent. Oleh karenanya kelompok umat Islam yang berpegang teguh kepada prinsip toleransi dan perdamaian akan berhadapan bukan saja dengan kelompok Islam garis keras, tetapi bisa jadi juga dengan kelompok Islam yang sebelumnya berjuang tanpa kekerasan.

Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh pemuka agama Kristen, Pendeta Ioanes Rakhmat, dalam blog-nya:

“Saya melihat, ketimbang bisa membantu Muslim Indonesia, proyek SAVE MARYAM ini potensial memecahbelah bangsa kita, memecah belah sesama Muslim Indonesia, dan membenturkan umat Islam dan umat Kristen. Inilah bahaya potensialnya!”  [5]

Gejala potensi akan perpecahan ini sudah terlihat dalam debat-debat sengit antara kedua kubu di dunia maya. Pemerintah perlu secepatnya mengambil tindak tegas terhadap kampanye #SaveMaryam sebelum kedua potensi perpecahan baik antara umat Islam dan Kristen, dan antara sesama umat Islam, membesar dan menjadi kenyataan.

Apakah Mercy Mission pernah berpikir tentang potensi perpecahan ini sebelum mereka melancarkan kampanye #SaveMaryam?

Apakah Mercy Mission peduli terhadap persatuan dan keutuhan bangsa Indonesia?

Jangankan peduli terhadap keutuhan bangsa, lembaga non-profit asing ini, mengenal budaya Indonesia saja tidak.

Indonesia adalah negara yang unik dimana umat dari enam agama dan lebih dari 300 suku bisa hidup berdampingan secara harmonis tanpa mempermasalahkan atribut agama. Apakah kita akan diam, jika keindahan budaya toleransi dan kerukunan yang telah kita nikmati berabad-abad ini berpotensi hancur, diacak-acak oleh kelompok asing yang tidak bertanggung jawab?

Adalah tugas bersama umat Islam dan Kristen untuk sama-sama menjaga dan mempertahankan nilai-nilai hulur budaya kerukunan dan kebersamaan ini. Kami umat Islam akan terus berusaha untuk meluruskan minoritas saudara-saudara kami yang menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan dakwahnya, begitu pula kami meminta umat Kristen untuk aktif meluruskan sebagian minoritas saudara-saudaranya yang melakukan upaya-upaya kristenisasi secara vulgar dan agresif. Hal ini sejalan dengan himbauan dari Pendeta Ioanes Rakhmat yang ditulis dalam blognya:

“Sudah seharusnya proyek 2 juta USD  SAVE MARYAM yang sudah digelindingkan ini memicu umat Kristen evangelikal revivalistik di Indonesia untuk memeriksa diri, tahu diri, bertafakur, dan mengembangkan kepekaan sosial mereka. Dan, pada pihak lainnya, adalah juga kewajiban kita semua, Muslim dan Kristen, untuk mencari dan menemukan fakta-fakta, dan menolak asumsi, pemalsuan data, fiksi, mitos, prasangka, kebencian dan kemarahan.” [5] 

Sebagai individu, kontribusi yang dapat saya lakukan hanyalah menulis artikel untuk memberikan pencerahan baik kepada bangsa Indonesia maupun dunia luar. Sudah saatnya pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap kampanye #SaveMaryam untuk mencegah potensi konflik agama yang bisa terjadi. Di samping itu, keterlibatan organisasi-organisasi Islam seperti Muhammadiyah, NU, Persis, dsb., dan juga organisasi-organisasi Kristen,  sangat diperlukan untuk memberikan ketenangan dan kesejukan kepada umat yang tengah resah ini.

Facebook:
Tulisan ini dapat juga dibaca di note facebook Maulana:
http://www.facebook.com/notes/maulana-m-syuhada/9-savemaryam-dan-potensi-konflik-antar-umat-bergama-di-indonesia/10151154703552238

Referensi

[1] Amalee, Irfan, Dakwah dengan Kasih Sayang, Bukan Ketakutan & Kebencian, Mizan.Com, 6 Agustus 2012.
http://mizan.com/news_det/irfan-amalee-dakwah-dengan-kasih-sayang-bukan-ketakutan–kebencian.html

[2] International Crisis Group (ICG), Indonesia: “Christianisation” and Intolerance, 24 November 2010, Asia Briefing N°114. http://www.crisisgroup.org/~/media/Files/asia/south-east-asia/indonesia/B114%20Indonesia%20-%20Christianisation%20and%20Intolerance.pdf

[3] International Crisis Group (ICG), Indonesia: “Kristenisasi” dan Intoleransi, 24 November 2010, Asia Briefing N°114. http://www.crisisgroup.org/en/regions/asia/south-east-asia/indonesia/B114-indonesia-christianisation-and-intolerance.aspx?alt_lang=id

[4] Syuhada, Maulana M., [#4] ICG demanded #SaveMaryam to remove all references to ICG, “Facebook Note”, 29 Juli 2012. http://www.facebook.com/notes/maulana-m-syuhada/4-icg-demanded-savemaryam-to-remove-all-references-to-icg/10151137849167238

[5] Rakhmat, Ionaes, Misi Muslim Save Maryam!, Blog Pribadi,  27 Juli 2012.
http://ioanesrakhmat.blogspot.co.uk/2012/07/misi-muslim-save-maryam.html

Posted in Save Maryam | Leave a comment

Tawfique Chowdhury (Director of Mercy Mission): “Very strange world we live in!”

Tawfique Chowdhury (Director of Mercy Mission): “Very strange world we live in!”






Other status!




Posted in Save Maryam | Leave a comment

[#8] EMANG LO SIAPA? – #SaveMaryam Dan Kultur Indonesia

EMANG LO SIAPA? – #SaveMaryam Dan Kultur Indonesia
By Maulana M. Syuhada
2 Agustus 2012 / 14 Ramadan 1433

Sejak saya mempublish note tentang #SaveMaryam, saya banyak mendapat email dan ratusan friend requests. Dilihat dari namanya yang masuk banyak sekali nama-nama Pakistan. Ternyata memang note-note saya ini banyak beredar di komunitas Pakistan.

Ini tidaklah mengherankan. Karena kalau melihat dari nama-nama pengurus Mercy Mission memang hampir bisa dikatakan (kecuali yg menggunak sheikh di depannya) hampir semuanya nama-nama Pakistan, http://www.mercymissionworld.org/our-people/

Sehingga kemungkinan besar video SaveMaryam ini awalnya beredar di komunitas Pakistan. Dan memang pertama kali saya mendapat link video Savemaryam ini, dari seorang teman Pakistan.  Dan ternyata note saya juga banyak beredar di sana. Kita bisa lihat siapa saja yg mengshare note saya di facebook kalau kita klik “share”.

Karena note saya merupakan counter langsung terhadap kampanye SaveMaryam, maka komunitas Pakistan pun mencoba mencari tahu siapa penulis note tersebut. Hasil google yang terpopuler yang beredar di kalangan komunitas Pakistan adalah artikel tentang Perjalanan Angklung saya bersama KPA 3 di Eropa tahun 2004 yang dimuat oleh The Jakarta Post, http://www.thejakartapost.com/news/2008/07/03/maulana-m-syuhada-exploring-world-with-music.html

Maka gegerlah komunitas Pakistan ini, karena bagi kebanyakan dari mereka musik hukumnya haram. Itulah mengapa di awal video SaveMaryam  ditulis: “No Musical Instruments Used!” Mana bisa seorang yang mengerjakan pekerjaan haram mengkritisi organisasi Islam. Mereka merasa tertipu. Lebih parahnya lagi, kata „Maulana“ dalam bahasa Pakistan berarti „Syeikh“ atau „Kyai“

Bahkan Tawfique Chowdury, Direktur MercyMission, dalam page-nya berkomentar:

„Very strange world we live in. A person has been writing articles against Save Maryam by the name of Maulana and all this time we have been thinking he is a respected Islamic authority in Indonesia due to his name ‘Maualana’. Today someone tells us, he is actually a musician. Wallahi strange world we live in!”

Komentar-komentar pembaca tentang status Tawfique di atas ini dapat dibaca di sini: http://www.facebook.com/pages/Tawfique-Chowdhury/153958201918?filter=3

Karena kiprah saya di angklung ini, di thread lainnya saya dikategorikan sebagai Fasik/Munafik karena mempromosikan musik. Beberapa komentar sempat saya “print screen”, dan bisa dilihat di link berikut: http://www.sabilulungan.org/savemaryam/diskusi_profil_maulana.html

Inilah salah satu contoh benturan kultur, antara Indonesia dan Pakistan. Sementara musik sudah menjadi bagian dari kultur bangsa Indonesia sehari-hari, di sebagian komunitas Pakistan musik merupakan barang yang haram.

Apakah Mercy sudah siap ketika nanti datang ke Indonesia dan menemui bahwa hampir seluruh penduduk Indonesia ternyata orang-orang munafik, termasuk Bimbo dan Bang Ebiet G. Ade yang merupakan musisi idola saya. Dan apakah bangsa Indonesia sudi diubah kulturnya menjadi kultur ala Pakistan yang tanpa musik?

Paling jawabannya, EMANG LO SIAPA?

Penyebaran video SaveMaryam yang vulgar dan provokatif, merupakan bukti nyata bahwa Mercy Mission tidak mengenal kultur dan kondisi Indonesia. Bagaimana mereka akan sukses berdakwah, kalau budaya lokalnya saja mereka tidak mengerti. Dan memaksakan budaya mereka diterapkan di Indonesia, hanya akan menciptakan konflik baru.

Mengapa Wali Songo berhasil menyebarkan Islam di pulau Jawa? Karena mereka melakukan dakwahnya secara kontekstual, sesuai dengan kultur penduduk di Jawa. Karenanya para wali itu dulu ahli segala macam dari mulai ahli bertani, bercocok tanam, berdagang, berpolitik, sampai berkesenian.

Kalau Mercy mau meniru contoh sukses wali songo yg menyebarkan dakwahnya lewat medium wayang dan gamelan, berarti Mercy harus belajar angklung dulu, supaya dakwahnya bisa diterima oleh remaja Indonesia, karena Angklung-lah yang lagi ngetrend sekarang ;)

Dan kalau belajar angklungnya mau di Inggris, berarti ya mau ga mau harus gabung ke grup angklung saya :D

Kalau begitu datang ke Indonesia, langsung mengeluarkan fatwa musik haram dan melarang remaja-remaja muslim bermain atau mendengarkan musik.

Paling respon yang mereka dapat dari remaja kita, EMANG LO SIAPA ?

Wallahu’alam

Posted in Save Maryam | 2 Comments