Hukum Sholat Subuh Kesiangan dan Menjamak Sholat

Soal 1

Kebetulan ada teman yg bertanya, kalau kita tidur larut malam, dan bablas ketika bangun sudah terang benderang, bagaimana hukum sholat subuh kita? Apa boleh kita sholat ketika matahari sudah terbit?

Buat yg tinggal di Eropa dan belum biasa beradaptasi dengan perubahan jam, kejadian seperti ini sangat mungkin terjadi, terutama di musim panas. Karena waktu isya cukup larut, sekitar pukul 10.30 – 11.00 malam, sedangkan matahari sudah terbit (syuruq) sekitar pukul 4.30 – 5.00 pagi (fajar terbit (subuh) sekitar pukul 2.30 – 3.00 pagi)

Jawabannya:

Langsung kerjakan sholat subuh ketika bangun. Rasulullah SAW dan para sahabatpun pernah ketiduran dan tetap menegerjakan sholat subuh padahal matahari sudah terbit.

Dalilnya:

[1] Diriwayatkan dari Abu Qatadah r.a, yang berkata: Pada suatu malam kami menempuh perjalanan bersama Nabi s.a.w, sebagian orang mengatakan: “Ya Rasulullah! Sebaiknya kita beristirahat menjelang pagi ini.” Rasulullah s.a.w bersabda: “Aku khawatir kalian tidur nyenyak sehingga melewatkan shalat subuh.” Kata Bilal : “Saya akan membangunkan kalian.” Mereka semua akhirnya tidur, sementara Bilal menyandarkan punggungnya pada hewan tunggangannya, namun Bilal akhirnya tertidur juga. Nabi s.a.w bangun ketika busur tepian matahari sudah muncul. Kata Nabi s.a.w: “Hai Bilal! Mana bukti ucapanmu?!” Bilal menjawab: “Saya tidak pernah tidur sepulas malam ini”. Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesungguhnya Allah mengambil nyawamu kapanpun Dia mau dan mengembalikannya kapanpun Dia mau. Hai Bilal! bangunlah dan suarakan azan.” Rasulullah s.a.w berwudhu, setelah matahari agak meninggi sedikit dan bersinar putih, Rasulullah s.a.w berdiri untuk melaksanakan shalat.

(Sahih Bukhari No. 560)

Soal 2

Bagaimana kalau kita kecapean, habis lembur, atau bikin tugas, dan khawatir tidak bisa bangun pas waktu isya yg cukup larut (ca. pukul 11 malam).

Jawabannya:

Dijamak saja sholat maghrib dan isya-nya. Nabi SAW pernah menjamak sholat di Madinah (ketika tidak sedang bepergian), dan tidak dalam keadaan takut maupun hujan.

Dalilnya:

[2] Diriwayatkan dari Ibnu Abbas katanya, “Rasulullah SAW  pernah menjamak shalat Zhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya di Madinah bukan karena keadaan takut dan bukan pula karena hujan.”

Dalam riwayat Waki’, ia berkata, ”Aku bertanya pada Ibnu ’Abbas mengapa Nabi SAW melakukan seperti itu?” Ibnu ’Abbas menjawab, ”Beliau melakukan seperti itu agar tidak memberatkan umatnya.”

Dalam riwayat Mu’awiyah, ada yang berkata pada Ibnu ’Abbas, ”Apa yang Nabi SAW inginkan dengan melakukan seperti itu?” Ibnu ’Abbas menjawab, ”Beliau ingin tidak memberatkan umatnya.”

(Sahih Muslim, No. 705 / 54)

[3] Diriwayakan dari Abdullah bin Syaqiq katanya, Ibnu Abbas berpidato kepada kami di Basrah pada suatu hari selepas Asar sehingga terbenam matahari dan terbit bintang-bintang. Ini menyebabkan manusia yang hadir berkata: Sholat, sholat. katanya lagi: Lalu datang seorang lelaki dari Bani Tamim memperingatkan: Sholat, sholat.

Lalu Ibnu Abbas berkata: Apakah engkau mengajar kepadaku sunnah? Tidak ada ibu bagimu. Kemudian katanya: Aku melihat Rasulullah SAW menjamakkan sholat zhuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya.

Abdullah bin Syaqiq berkata: Penjelasan Ibnu Abbas itu tidak memuaskan hatiku. Kemudian aku pergi kepada Abu Hurairah, dan menanyakan hal itu, maka dia membenarkan perkataan Ibnu Abbas.

(Sahih Muslim, No. 705 / 57)

Jadi jika tidak ada hajat (alasan) saja menjamak sholat diperbolehkan (asal tidak dijadikan kebiasaan), apalagi jika ada alasan (kecapekan, takut ketiduran, kuliah/kerja/konferensi/turnamen/resepsi/training yg nubruk waktu sholat, dsb.).

Keterangan lebih lanjut tentang masalah ini bisa dilihat pada note saya tentang menjama sholat dalam keadaan tidak safar (bepergian):

http://www.facebook.com/notes/maulana-m-syuhada/combining-prayers-jama-whilst-not-travelling/10150471352862238

Soal 3

Kemudian ada teman lainnya yg bertanya, bagaimana kalau benar2 terjadi, misalnya saya tidur sebelum maghrib (pukul 8 malam), ketika bangun sudah masuk subuh (pukul 3 pagi). Apakah saya harus sholat ketiganya sekalian?

Jabwannya:

Ketika bangun langsung kerjakan sholat yg terlupa/tertinggal waktu ketiduran, yaitu sholat maghrib dan isya, setelah itu kerjakan sholat subuh.

Dalilnya:

[4] Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang lupa untuk melaksanakan shalat, maka laksanakanlah ketika ingat, tanpa kaffarah [denda] atas lupanya itu kecuali dengan mengerjakan shalat tersebut.” Kemudian Rasulullah s.a.w membaca ayat (yang artinya): “… dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS 20:14).

(Sahih Bukhari, No. 562)

[5] Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa lupa shalat, hendaklah ia tunaikan ketika ingat, tidak ada kaffarat atas shalatnya selain menunaikannya. Qatadah berkata; “Dan dirikanlah shatal untuk mengingat-Ku (QS 20:14).”

(Sahih Muslim, No. 1102)

Masih dalam Hadits Muslim namun lewat jalur sanad yg berbeda:

[6] Diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda: “Jika salah seorang diantara kalian ketiduran dari (tidak mengerjakan) shalat, hendaknya ia mengejakan ketika ingat, sebab Allah Ta’ala berfirman; Dirikanlah shalat untuk mengingatku (QS 10:14).”

(Sahih Muslim, No. 1104)

Soal 4

Bagaimana kalau meninggalkan sholatnya secara disengaja, misal belum sholat ashar tapi lagi kagok nonton Chelsea vs Bayern Muenchen. Selesai adu pinalti udah maghrib.

Jawabannya:

Karena perbuatan ini disengaja maka jatuhnya dosa, dan sholat yg ia tinggalkan tidak bisa dilakukan lagi (sholat ashar yg ia tinggalkan tidak bisa dilakukan pada waktu maghrib). Yang harus dia lakukan adalah mohon ampun dan bertobat kepada Allah SWT dan tidak mengulanginya lagi. Pandangan ini sesuai dengan pendapat dari Umar bin Khattab, Saad bin Abi Waqqaas, Ibnu Mas’ud, Umar bin Abdul Aziz, dll; juga didukung oleh banyak imam lainnya seperti Imam Ibn Taymiyah, Ash-Shawkaani, Al-Albaani, Ibnu Hazm, dll.

Dalilnya:

“[7] … Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang waktunya sudah ditentukan atas orang-orang yang beriman.”

(QS 3:103)

Wallahu’alam bisshawab!

mms.

This entry was posted in Islam and tagged . Bookmark the permalink.

7 Responses to Hukum Sholat Subuh Kesiangan dan Menjamak Sholat

  1. Mery Rahmi says:

    Subhanallah.. Ya Allah.. Aku sangaaat bersyukur kepada Allah krn bisa menjadi orang islam… Artikel ini sangat bermanfaat, semoga ini dpt menambah keimanan dan ketaqwaanku… Amiin….

  2. dharsono says:

    assalamu’alaikum

    terimakasih mudah2n kita semua bisa membenahi shalat kita…
    ini sgt bermanfaat untuk saya.. thanxs

  3. iffah says:

    syukron akh,sngt bermanfaat

  4. purwo says:

    alhamdulillah sangat bermanfaat sekali artikel ini buat saya, termakasih

  5. Sepulusen says:

    sem0ga da’wa ini brmanfaat bgi sluruh umat manusia amin..

  6. terima kasih.
    sebelumnya aku bingung boleh atau tidak…!!!

  7. Alhamdulillah…akirnya aku menemukan jawaban dari artikel ini…sangat bermanfaat….terima kasih banyak….!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s