Kontroversi Film Cin(T)a: Catatan Seorang Sahabat

Film Cin(T)a mengundang reaksi yang beragam, pro dan kontra, sejak trailer-nya diluncurkan awal April 2009 ini di Youtube, hingga setelah pemutaran perdananya di London pada 29 Mei 2009 yg lalu. Mulai dari reaksi positif yg memuji keberanian film ini mengangkat tema kerukunan beragama, hingga kecaman dari pihak-pihak yg mencap bahwa film ini mendorong perkawinan antar-agama dimana pemerintah Indonesia tidak melegalkannya.

Trailer:

Pertama kali saya mendengar film ini awal April yg lalu di London, ketika saya mengunjungi seorang teman, Irfan Amalee, yg kebetulan menjadi finalis International Young Creative Entrepreneur (IYCE) 2009 untuk kategori “Communication”. Kebetulan produser film Cin(T)a, Adi Panuntun, merupakan finalis IYCE tingkat nasional untuk kategori “Screen”. Irfan dan Adi, keduanya berkenalan sewaktu sama-sama dikarantina di Jakarta oleh The British Council. Walaupun Adi tidak menang di tingkat nasional, tapi Indonesia berhasil meloloskan Sakti Parantea untuk bertarung di London dan berhasil keluar sebagai pemenang menyisihkan 9 negara finalis lainnya. Adi adalah teman bermain bola sewaktu SMA di Bandung dahulu, sedangkan Irfan adalah teman sekamar selama tiga tahun ketika mondok di pesantren di Garut. Jadi hari itu adalah hari reuni saya dengan sahabat-sahabat lama sewaktu sekolah dahulu.

Ketika Adi menunjukkan trailer Cin(T)a dan memaparkan ide launching-nya, saya langsung terkesan. Komentar pertama saya, “Luar biasa”! Dari dua tokoh utamanya: Annisa, gadis Muslim berdarah Jawa, dan Cina, pemuda Kristen keturunan Tionghoa, tersirat pesan bahwa film ini mengusung tema kerukunan etnik dan agama. Dan saya pikir memang tema-tema seperti inilah yang diperlukan bangsa Indonesia saat ini agar semboyan Bhineka Tunggal Ika itu tidak hanya hafalan mulut untuk pelajaran PPKN belaka, tetapi menjadi nilai-nilai luhur sebagaimana diwariskan oleh nenek moyang kita dari generasi ke generasi. Keragaman yg kita miliki (suku, bahasa, tradisi, agama dsb.) merupakan kekayaan bangsa yg membuat bangsa ini besar dan unik. Ratusan tahun Indonesia dibangun dalam keragaman yg harmonis, mengapa sekarang kita begitu sensitif, mudah tersinggung, saling curiga, dan bahkan ada yang sampai mengambil jalan anarkis dalam menyelesaikan perbedaan.

Antusiasme dan dukungan saya atas ide film ini semakin besar, ketika Adi memaparkan visi-misinya tentang pengembangan industri kreatif di Bandung. Dengan semangat entrepreneur-nya, Adi berusaha membuktikan bahwa film independen yg dibuat dengan anggaran rendah (low cost movie) bisa menghasilkan film yg berkualitas tinggi. Film ini diharapkan bisa menjadi inpirasi bagi kaum muda yg bergerak di dunia perfilman untuk terus maju berkarya mengembangkan kreativitasnya tanpa harus terhambat oleh masalah dana. Film ini membuktikan bahwa “low-cost (but) high-quality” film bisa diwujudkan.

Trailer merupakan sebuah cuplikan singkat sebuah film yg dibuat untuk membuat publik penasaran. Menilai film hanya berdasarkan trailer tentulah sangat bias. Bagaimanakah sebenarnya isi film Cin(T)a tersebut?

Tulisan ini saya buat untuk mengkritisi isi (content) dari film Cin(T)a. Adapun segi-segi teknis seperti acting, pengambilan gambar, penyuntingan, audio/visual dan lainnya, tidak menjadi bahasan dalam tulisan ini karena keterbatasan saya yg awam dalam hal perfilman. Uraian di bawah ini juga tidak lepas dari kapasitas saya sebagai seorang muslim yg pernah mengenyam pendidikan pesantren, berdomisili di luar negeri dan sedang mengenyam pendidikan barat dalam tujuh tahun terakhir, dan merupakan sahabat sang produser.

1. Reaksi secara umum
Begitu selesai pemutaran perdana film Cin(T)a di the Britih Film Institute London, perasaan saya bercampur aduk. Bangga dan bahagia, karena generasi muda kita berani dan mampu menghasilkan karya yg berkualitas dan bervisi meski harus maju dengan label independen, tapi kecewa dengan beberapa materi film yg digarap dengan kurang hati-hati. Bagian mana saja yg menjadi ganjalan bagi saya? Berikut kritikan-kritikannya:

2. Perkawinan Antar Agama
a. Perkawinan antar-agama dari sudut pandang Islam
Ketika kita mengkritisi suatu ajaran agama, rujukan kita bukanlah perilaku dari penganut agama tersebut, tetapi prinsip-prinsip ajaran agama tersebut sebagaimana tertuang dalam kitab sucinya. Dalam konteks Islam, maka Al-Quran lah yang harus menjadi sumber, bukan perilaku dari kaum muslim. Karena perilaku manusia, bisa sesuai dengan ajaran agama, bisa juga menyimpang. Tidak aneh jika, Ajmal Masroor, calon MP dari partai Liberal Democrat, yang juga imam masjid London, mengatakan, “Don’t judge the Quran and Islam by the behaviour of muslims but the other way around, judge muslims by what the Quran says.”

Bagaimanakan perkawinan antar agama menurut Al-Quran?
Secara umum Al-Quran memberikan pedoman sbb:
“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik [dengan wanita-wanita mu’min] sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya [perintah-perintah-Nya] kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS A1-Baqarah [2]: 221).

Bagaimana halnya dengan pendapat yang kerap kita dengar bahwa pria muslim boleh menikah dengan wanita non-muslim (ahli kitab)?
Dalam Surat Al-Maidah [5] : 5, Allah SWT berfirman:
“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan [sembelihan] orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. [Dan dihalalkan mengawini] wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak [pula] menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.” (QS Al-Ma-idah [5]: 5).

Inilah yang menjadi dasar bahwa seorang pria muslim diperbolehkan menikahi wanita ahli kitab (Kristen dan Yahudi), namun tidak sebaliknya. Terlepas dari adanya perbedaan penafisran, namun Inilah pendapat yg paling populer dan disetujui oleh mayoritas para ulama. Sebagaimana dijelaskan oleh Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Quraish Shihab, dalam bukunya, “Wawasan Alquran”, pendapat ini adalah pendapat yang didukung oleh mayoritas sahabat Nabi dan ulama. Mereka menyatakan bahwa walaupun aqidah ketuhanan ajaran Yahudi dan Kristen tidak sepenuhnya sama dengan aqidah Islam, tetapi Al-Quran tidak menamai mereka yang menganut Kristen dan Yahudi sebagai orang-orang musyrik. Firman Allah dalam surat A1-Bayyinah [98]: 1 dijadikan salah satu alasannya.
“Orang kafir yang terdiri dari Ahl Al-Kitab dan Al-Musyrikin (menyatakan bahwa) mereka tidak akan meninggalkan agamanya sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 1).

Ayat ini menjadikan orang kafir terbagi dalam dua kelompok berbeda, yaitu Ahl Al-Kitab dan Al-Musyrikin. Perbedaan ini dipahami dari kata “wa” yang diterjemahkan “dan”, yang oleh pakar bahasa dinyatakan sebagai mengandung makna “menghimpun dua hal yang berbeda.”

b. Bedakan antara sikap anti-kerukunan dan ketaatan beragama
Ketika umat Islam menghindari pernikahan antar agama, antara wanita muslim dengan pria non-muslim, tidak bisa diartikan bahwa umat Islam anti kerukunan beragama, tetapi ini adalah prinsip yang tersurat secara tegas dalam Al-Quran, kitab suci yang menjadi prinsip hidup mereka.
Konkteks film Cin(T)a adalah kerukunan beragama. Salah satu setting-nya adalah tahun 2000 dimana terjadi pengeboman gereja di malam natal. Tindakan kriminal seperti ini jelas perilaku anti kerukunan beragama, yang dikecam oleh Al-Quran. Namun menempatkan pengeboman gereja sebagai setting anti kerukunan beragama dan mengkaitkannya dengan sikap umat Islam yg menghindari pernikahan antar agama adalah sangat tidak tepat.

Seperti diungkapkan sebelumya, sikap umat Islam menghindari pernikahan agama tidak ada kaitannya dengan anti kerukunan beragama, anti toleransi, kebencian kepada agama lain dan sebagainya. Mereka semata-mata hanya mengamalkan prinsip ajaran agamanya sebagaiman tertera dengan gamblang dalam kitab suci Al-Quran.
Adapun pertanyaan apakah pemerintah punya hak untuk melarang dua warga negara yang berbeda agama untuk menikah itu adalah perkara lain. Dalam hal ini yang perlu dikritisi adalah kebijakan campur tangan pemerintah terhadap perkawinan antara agama, bukan mempertanyakan sikap muslim yang menghindari pernikahan antara agama dalam konteks anti toleransi dan kerukunan beragama, apalagi dengan setting pengeboman malam natal. Banyak umat Islam yang sangat toleran dan menjunjung tinggi kerukunan beragama, dan pada saat yang bersamaan mereka tetap berpegang teguh pada Al-Quran. Adalah tidak adil jika orang-orang taat beragama ini dikelompokkan sebagai golongan anti toleransi dan kerukunan beragama hanya karena mereka menghindari perkawinan antar agama.

Jika ada seseorang bertanya kepada saya, apakah saya setuju perkawinan antara seorang wanita muslim dengan pria non-muslim. Saya akan jawab, saya tidak setuju karena hal tersebut bertentangan dengan kitab suci saya, tapi saya menghormati kebebasan setiap orang untuk menikah dengan siapapun yang diinginkannya, menurut keyakinannya. Sama persis seperti saya tidak setuju jika seorang muslim makan daging babi atau minum minuman keras, tapi saya tidak punya hak untuk memaksa seseorang untuk tidak makan babi atau minum-minum, dan saya tidak punya hak untuk membenci orang tersebut. Agama adalah hak asasi, dan setiap orang punya kebebasan untuk menjalankan keyakinannya. Al-quran dengan gamblang menjamin kebebasa beragama:
“Tidak ada paksaan untuk beragama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut (syaitan) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 256)

Dalam ayat yang lain:
“Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. (QS. Al-Kafirun [109]:6)

Contoh di atas bisa menjadi analogi untuk kasus perkawinan antara agama ini. Umat Islam menghindari memakan daging babi dan minum minuman keras semata-mata karena ketaatan mereka kepada kitab sucinya, dan jangan diartikan bahwa umat Islam itu diskriminatif karena mengharamkan babi dan anti bersosialisasi dengan pemeluk agama lain karena tidak mau ikut minum-minum.

3. Toleransi antar umat beragama
Dalam salah satu bagian film terdapat kutipan ayat Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 62:
“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak [pula] mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]: 62)

Dalam “scene” ini sutradara terlihat mencoba mengkontradiksikan ajaran Islam yang toleran dengan sikap anarkis oknum umat Islam yang “anti-toleransi” (membakar gereja). Itu sangat tepat. Tapi mengkontradiksikan ayat ini dengan sikap umat Islam yang menghindari perkawinan antar agama adalah sangat tidak tepat. Ayat ini bukanlah justifikasi bolehnya seorang muslim menikah dengan seseorang yang berlainan agama. Dan menganggap bahwa orang islam yang tidak setuju dengan perkawinan antar agama dianggap tidak toleran dan bertentangan dengan ayat ini. Pendapat ini adalah keliru. Seperti diutarakan di atas, seorang muslim memilih untuk tidak menikah dengan orang yang berbeda agama, bukan tindakan anti toleransi, namun ketaatan terhadap kita sucinya.

Toleransi antar umat beragama merupakan bagian integral dalam ajaran Islam. Pada zaman Nabi Muhammad S.A.W, semua penduduk diberi jaminan untuk dapat melaksanan ajaran agamanya masing-masing, bahkan setiap individu warga Madinah kala itu, terlepas apakah dia muslim, yahudi, nashrani dsb., diberi proteksi keamanan penuh oleh pemerintah dari serangan musuh dari luar. Setiap warga memiliki kedudukan yang sama dalam hukum, dan dijamin hak asasinya.

Ada sebuah cerita yang cukup masyhur di zaman kekhalifan Ali bin Abi Thalib, ketika seorang Yahudi yang dituduh mencuri baju perang Ali diseret ke pengadilan. Walaupun Khalifah Ali, sang kepala negara, tahu bahwa orang Yahudi inilah pencurinya, namun karena tidak cukup bukti, orang Yahudi tersebut bebas secara hukum. Melihat keadilan ini, Yahudi tersebut mengaku mengambil baju perang tersebut dan mengembalikannya kepada Khalifah Ali. Ini menunjukkan bahwa setiap warga negara punya kedudukan yang sama di mata hukum tanpa mengenal jabatan, suku dan agama, tidak peduli apakah sang penggugat orang nomor satu di negara tersebut, seorang muslim terpandang, berada di negara Islam, dan si tertuduh adalah seorang yahudi kelas papa, semuanya sederajat di mata hukum.

Namun jika ajaran toleransi dalam Islam ini digunakan untuk mengkritisi sikap umat Islam yang menghindari perkawinan antar agama, dan mencitrakannya sebagai anti toleransi, ini adalah hal yang keliru.

4. Tafsir Al-Quran
Agama adalah hal yang sangat pribadi dan sensitif. Oleh karenanya kita harus berhati-hati ketika memberikan komentar tentang ajaran suatu agama, apalagi menyangkut kitab sucinya. Komentar yang tidak digarap dengan baik dapat menimbulkan salah paham. Seperti salah satu komentar Annisa dalam perbincangan berikut:

“Annisa itu nama surat di Al-Quran. Artinya perempuan. Gue ga suka nama gue (Annisa). Di surat Annisa ada tafsir yang nyaranin mukul istri.”
“Kawin kok kaya tinju?”
“Islam bukan agama barbar, mangkanya gue lebih sukanya baca tafsir bahasa Inggris. Yang bikinnya turunan Iran, cewek, nah di situ Annisa-nya lebih lembut”

Dari dialog ini timbul pertanyaan, apakah tafsir Al-Quran yang beredar dalam bahasa Indonesia (ie. yg dikeluarkan oleh MUI) mempersepsikan Islam sebagai agama barbar?

Kita juga tidak bisa sembarangan dalam mengutip ayat Al-Quran, atau tafsir Al-Quran, apalagi hanya sepotong-sepotong. Pemirsa awam yang mendengar kutipan dialog di atas dikhawatirkan akan beranggapan bahwa Al-Quran menyarankan untuk memukul isteri. Itulah setidaknya persepsi yang membekas di kepala orang awam dari dialog yang sangat singkat dan tanpa adanya klarifikasi yang memadai terhadap komentar tersebut.

Ayat-ayat Al-Quran tidak bisa diterjemahkan secara literal, dan harus dipahami dalam konteks ketika ayat tersebut diturunkan (Asbabun-nuzul), dan tidak bisa hanya sepotong-sepotong; diperlukan pengetahuan yang komprehensif atas isi Al-Quran secara keseluruhan, karena satu ayat berkaitan satu dengan yang lainnya; diperlukan pengetahuan yang memadai tentang ilmu hadits untuk bisa menginterpretasikan ayat-ayat Al-Quran yang bersifat umum ke dalam tataran praktis yang lebih rinci; diperlukan ilmu bahasa dan tata bahasa yang tinggi untuk bisa menafsirkan ayat dengan benar. Oleh karenanya Al-Quran di seluruh dunia sama (dalam bahasa aslinya, bahasa Arab), tidak ada yang berubah satu hurufpun. Tidak ada Al-Quran yang hanya terjemahan, karena penafsiran dari terjemahan tidak mungkin bisa dilakukan dan akan menimbulkan distorsi yang besar (bahkan sesat) karena bahasa dan tata bahasa Al-Quran memiliki keunikan tersendiri. Oleh karenanya pengutipan ayat Al-Quran atau tafsir Al-Quran tidak bisa sembarangan, apalagi hanya sepotong-sepotong.

5. Dialog Pencarian Tuhan dan Kematangan Audiens
Selain tema utama perkawinan antar agama, film ini juga melibatkan topik yang cukup berat, pencarian eksistensi Tuhan. Bagi audiens yang matang dan dewasa, hal ini tidak menjadi masalah. Namun jika film ini dikonsumsi oleh anak-anak atau remaja yang masih labil, maka beberapa dialog dari film tersebut dapat disalahartikan, seperti cupikan kalimat-kalimat berikut:

– “Religion brings fight. It’s better if none.”
– “Tuhan memang suka dipuja dan disembah, but all the time?”
– “Kenapa Tuhan nyiptain Atheist? Cape tau disembah setiap saat!”
– “Lebih baik ga usah ada Tuhan, ga usah ada agama, ga ada perang!”

Bagaimana kalau anak-anak kita lantas berpikir, “Oh betul juga, agama hanya membawa kepada pertikaian. Lebih baik tidak ada agama saja, supaya tak ada pertikaian.” Ini sejalan dengan kampanyenya Richard Dawkins, “Religion is the root of all evil”. Di negara sekuler, hal semacam ini bisa menjadi konsumsi publik. Tapi tidak di negara kita, dimana sila pertama adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Supaya kritikan saya tidak disalahpahami, kembali saya tegaskan bahwa keberatan saya adalah masalah audiens yang belum dewasa secara umur dan labil yang bisa mensalahartikan dialog-dialog Ketuhanan di atas.

6. Usulan ke depan
a. Tema Kerukunan antar Umat Beragama
Seperti telah disinggung sebelumnya, tema kerukunan antar umat beragama merupakan salah satu tema penting yang perlu diangkat ke permukaan. Tema seperti pengkritisian sikap anarkis oknum umat Islam yang melakukan pembakaran gereja di tahun 2000 dan mengkontradiksikannya dengan ajaran Islam yang toleran dan damai haruslah didukung. Ini adalah bentuk kritik terhadap perilaku kaum beragama yang ternyata jauh dari ajaran-ajaran agamanya.

Namun jika yang dikritisi itu adalah ajaran-ajaran agama dalam kitab suci agama tertentu (seperti larangan perkawinan antar agama), maka ini justeru akan menyulut terjadinya konflik.

Film Cin(T)a ini mungkin akan memiliki tanggapan yang berbeda jika karakter dari kedua tokoh tersebut dibalik, misalnya seorang pria Muslim berdarah Jawa yang jatuh cinta dengan seorang Kristiani taat keturunan Tionghoa. Di sini tidak ada isu yang bertentangan dengan syariat agama.

Konflik yang dibangun bisa diperluas ke masalah etnik, misalkan penentangan dari pihak keluarga muslim untuk menikahi anaknya dengan seorang Tionghoa. Karena agama membenarkan seorang pria Islam menikahi wanita kristiani yang taat, maka logiknya, etnislah yang menjadi hambatannya keduanya menikah.
Kritik besarnya, apa yang salah dengan seorang keturunan Tionghoa? Toh dia tidak memilih untuk dilahirkan sebagai seorang keturunan Tionghoa. Kita harus jujur, bahwa sebagian masyarakat kita masih punya stereotype-stereotype yang tidak baik terhadap keturunan Tionghoa dan bertindak tidak adil terhadap mereka. Sudah saatnya kita membersihkan stereotype-stereotype negatif ini dan maju bersama sebagai bangsa.

b. Kritisi Pemerintah
Film Cin(t)a ini juga akan berbeda jika fokus yang diambil adalah “murni” kritisi terhadap kebijakan pemerintah yang campur tangan dalam masalah agama. Jadi bukan sikap umat Islam yang menghindari perkawinan agama yang dikritisi dan dicap anti toleransi agama, namun sikap pemerintah yang mencampuri urusan yang sangat pribadi, beragama. Bisa saja dibuat pertanyaan, apakah saya shalat atau tidak, bukanlah urusan pemerintah? Apakah saya menikah dengan sesama atau lain agama, bukanlah urusan pemerintah? Apakah saya patuh terhadap agama saya atau tidak, bukanlah urusan pemerintah.

Yang dikritisi di sini adalah sikap campur tangan pemerintah, bukan ajaran suatu agama.

c. Konsultan Agama
Saya menilai bahwa film ini kurang didukung oleh konsultan-konsultan yang ahli dalam masalah agama, sehingga terjadi salah interpretasi akan suatu ajaran agama. Salah satu yang paling esensi adalah tentang posisi Al-Quran dalam hal perkawinan antar agama. Ke depannya saya mengusulkan agar sebuah film, apalagi yang bertema sensitif, haruslah dilengkapi dengan konsultan ahli yang memadai, sehingga film menjadi “credible” dan bisa diterima masyarakat luas.

7. Penutup
Film ini menjadi dilematis. Di satu sisi saya tidak ingin kreativitas, keberanian dan semangat generasi muda yang visioner harus mati secara premature, namun di sisi lain saya tidak bisa berkompromi dengan bagian-bagian film yang mengganjal secara esensi.

Namun saya menilai bahwa kekeliruan-kekeliruan yang ada dalam film ini, adalah hasil dari kurangnya pengetahuan (lack of knowledge) dari tim pembuat film, bukan faktor kesengajaan untuk merugikan pihak tertentu.

Terlepas dari apakah pada akhirnya film ini akan diloloskan oleh Lembaga Sensor Film dan bagaimanakah reaksi masyarakat terhadap film ini, namun produser muda visioner yang kreatif dan mandiri seperti Adi tidak boleh mati prematur. Tulisan ini sedianya merupakan bentuk kepedulian saya terhadap rekan-rekan muda perfilman agar bisa terus memperbaiki diri dan berkarya. Saya yakin segala kritikan dan kontroversi yang mewarnai perjalanan film ini akan membentuk Adi menjadi produser yang lebih matang, lebih tangguh dan bijak di masa datang.

This entry was posted in Culture, Film, Islam, Social and Community. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s