Memahami SBY dengan Analogi Sepak Bola

Ini sebenernya jawaban atas pertanyaan temen di milis minggu lalu, menanggapi pidato SBY. Berhubung saya bukan orang hukum (tapi pemaen bola), jadi saya cuma bisa menjelaskan dari kacamata sepak bola.
Lagipula kan sudah buanyakkk sekali pakar hukum yg bicara, tapi pemaen bola belum tampaknya nih😉

Memahami SBY dengan Analogi Sepak Bola

Kalau diibaratkan pertandingan sepak bola, SBY itu adalah kapten sekaligus manajer (aka. manajer bermain). Contoh manajer bermain adalah Ruud Gullit dan Gianluca Vialli ketika menangani Chelsea.

Image

Kasus yg sekarang itu, ibaratnya sang kapten (SBY) sudah berdiri bebas di depan gawang lawan yg kosong, dimana kiper-nya sudah “out of position”, dan para pemain bertahannya sudah porak poranda, yang satu terpeleset, yang satu laginya terkena keram mendadak, sehingga bola di depan mata itu hanya tinggal disepak untuk mencetak gol, apalagi didukung oleh penonton seisi stadion.

Tapi apa yang terjadi? Sang kapten bukannya mencetak gol ke gawang yang kosong yang sudah tak bisa dipertahankan lagi (undefendable), tapi ia malah mengumpan balik ke gelandang.

DUARRRRR……

Semua penonton pun syok berat. Penonton yang sudah bersabar menunggu lebih dari satu jam menjadi marah, bahkan beberapa penonton sampai harus diamankan karena mencoba masuk ke lapangan bola. Tampaknya mereka ingin menendang sendiri bola itu ke gawang lawan. Untungnya sampai saat ini determinasi penonton masih bisa dibendung petugas.

Sang kapten sudah diberi peluang emas untuk mencetak gol dalam ketidakberdayaan pertahanan pemain lawan. Dan gol ini bisa dicetak tanpa harus melanggar satu pun aturan permainan sepak bola. Cukup dengan menendang bola ke gawang yg kosong itu, tidak perlu mengontrolnya dengan tangan (seperti Thierry Henry) atau “diving” mencari-cari “freekick” (ala Ronaldo).

Gol bisa dicetak tanpa melanggar peraturan permainan, tapi kenapa sang kapten tidak menendang bola itu ke gawang?

Ada dua kemungkinan:
1) Sang kapten tidak percaya diri untuk mencetak gol itu sendiri karena dia bukan striker.
2) Sang kapten punya keterkaitan dengan klub lawan (apakah karena itu mantan klub-nya, atau pemilik klub itu teman-temannya, atau ternyata ia juga punya saham di situ, atau klub itu pernah berjasa kepada sang kapten, dan sebagainya)

Yang jelas karena gol itu tidak terjadi, akhirnya para pemain klub lawan berhasil membenahi diri (regrouping), dan berhasil mempertahankan skor imbang hingga babak dua berakhir.

Bukan itu saja, pemain lawan juga berhasil menghajar dua ujung tombak tim yg kerap kali membahayakan gawang mereka, hingga harus digotong keluar lapangan dan mendapat perawatan. Walaupun demikian kedua ujung tombak idola masyarakat ini ngotot untuk tetap bermain. Setelah mendapatkan perawatan medis, dengan terpincang-pincang keduanya kembali masuk ke lapangan disertai sambutan gemuruh penonton yg mengelu-elukan keduanya.

90 menit berlalu, kedudukan imbang, perpanjangan waktu pun tak terhindarkan. Para komentator yang pintar langsung membuat analisis dan menjustifikasi keputusan sang kapten untuk tidak langsung mengeksekusi bola ke gawang tapi mengumpan balik ke gelandang. Berbagai teori cerdas pun bermunculan. Terdengar istilah-istilah asing seperti catenaccio, total football, diamond shape, dsb.

Rakyat awam tidak bisa mengerti istilah-istilah asing itu. Mereka hanya tahu bahwa gawang sudah kosong, dan tinggal sikat! Rakyat yg tidak mengerti dengan penjelasan komentator dianggap bodoh dan tidak berwawasan.

Rakyat tidak peduli. Common sense mereka mengatakan bahwa dalam kondisi gawang kosong melompong, gol harus terjadi. Mereka tidak bisa menerima keputusan sang kapten utk mengumpan balik ke gelandang walaupun komentator-komentator pintar sudah menjelaskannya dengan jenius.

Sudah sejak awal babak kedua, rakyat berteriak agar dua pemain kunci yang bermain buruk malam itu diganti. Apalagi mereka mendapat bocoran bahwa kedua pemain tersebut sempat terlihat makan malam bersama dengan pemilik klub lawan. Rakyat semakin curiga kalau ini ada kaitannya dengan buruknya penampilan mereka.

Teriakan dan jeritan rakyat tidak digubris oleh sang kapten. Kedua pemain tetap tidak diganti. Babak perpanjangan waktu pun dimulai.

Tapi sampai kapan rakyat bisa bersabar?
Tentu kita semua tidak mau melihat rakyat menjadi anarkis. Masuk ke lapangan bola dan berusaha menendang sendiri bola itu ke gawang lawan.

Apa yg akan terjadi di babak perpanjangan waktu ini?
Apakah skor akan tetap imbang, sehingga diperlukan adu penalti?
Atau tim lawan malah mencuri gol di menit-menit akhir?
Atau bahkan pertandingan terpaksa dihentikan karena penonton sudah masuk ke lapangan dan bahkan ada yg memukuli pemain lawan dan mengejar-ngejar sang kapten?

Adapun sang pemilik klub (lawan), sudah sejak babak ke dua tancap gas, kabur memakai jet ke Singapura.

This entry was posted in Politics. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s