Angklung Orchester Hamburg: Sejarah dan Perkembangannya (Periode 2001 – 2004)

Tulisan ini disusun sebagai salah satu sumber materi untuk keperluan wawancara Angklung Hamburg Orchestra di Radio PPI Dunia, yang rencananya akan dilangsungkan secara live pada hari Minggu, 11 Desember 2011, pukul 15.00 – 18.00 WIB, di http://radioppidunia.org/

Tulisan ini terbatas hanya mencakup sejarah dan perkembangan Angklung Hamburg di tahun-tahun awal berdirinya (2001 – 2004).

1.     Tahun 2001: Asal Muasal Angklung di Technische Universität Hamburg-Harburg (TUHH)

Berawal dari acara „Get Together“, sebuah acara tahunan yg berisi bazaar makanan dan pentas seni yg diselenggarakan oleh pihak TUHH, para mahasiswa Indonesia di sana berinisiatif untuk menampilkan angklung. Pada musim panas 2001, dengan bermodalkan hanya delapan buah angklung pinjaman dari KJRI Hamburg, tampilah sembilan orang mahasiswa Indonesia di acara tersebut. Grup ini dikonduktori oleh Agustinus Tedja (mahasiswa S2 jurusan Information Communication System). Grup memang dibentuk hanya untuk penampilan saat itu saja, sehingga setelah acara grup pun membubarkan diri [1].

Agustinus Tedja mengkonduktori penampilan pertama angklung di TUHH pada acara “Get Together”, 6 Juli 2001

2.      Tahun 2002: Orkes Bambu Hamburg (OBH)

Setahun setelah itu, pada musim panas 2002, mahasiswa Indonesia di TUHH diundang untuk mengisi acara seni dan budaya dalam rangka pembukaan Asien Afrika Institut (AAI) di Universitas Hamburg. Para mahasiswa sepakat untuk menampilkan angklung, karena pada bulan yang sama akan diselenggarakan juga acara tahunan “Get Together di TUHH, dan kami sepakat untuk kembali menampilkan angklung. Namun kali ini jumlah personil grup bertambah dua kali lipat seiring dengan bertambahnya jumlah mahasiswa program S2 di TUHH. Selain itu beberapa mahasiswa dari Universitas Hamburg dan FH-Hamburg juga turut bergabung memperkuat tim.

Untuk memenuhi kebutuhan angklung yang cukup banyak, kami meminjam angklung dari KJRI. Pada saat itu kami menemukan angklung yang sudah tak terpakai ditumpuk di kamar bekas WC di KJRI. Jumlahnya cukup banyak, sekitar 3 set (lebih dari seratus angklung). Angklung-angklung tersebut dalam kondisi memprihatinkan; banyak yang patah dan berjamur (karena lembab). Dengan kesabaran akhirnya beberapa angklung yg masih bagus kami bersihkan untuk dipakai latihan.

Pada tanggal 12 Juni 2002, di bawah pimpinan Barly Bachsin (mahasiswa S2 jurusan International Production Management), tampilah 16 orang mahasiswa Indonesia di acara pembukaan AAI, Uni-Hamburg. Karena keterbatasan latihan saat itu, maka grup tampil dengan menggunakan partitur besar yang ditempel di papan tulis. Barly dengan sabar menunjuk satu persatu not di papan tulis, membimbing grup memainkan birama demi birama. Walaupun dengan segala keterbatasannya, pentas saat itu cukup sukses dan mendapatkan sambutan yang sangat meriah dari penonton.  Setelah pentas, pihak KJRI langsung menawarkan grup untuk mengisi acara “Malam Budaya Indonesia” dalam rangka memperingati HUT RI di bulan Agustus. Bahkan Barly juga didatangi oleh seorang produser musik yang menawarkan untuk melakukan rekaman di studionya.

Pada penampilan di AAI ini untuk pertama kalinya grup secara formal terdaftar dalam susunan acara dengan nama “Orkes Bambu Hamburg” (OBH). Khawatir tertukar dengan Obak Batuh Hitam, akhirnya nama grup direvisi menjadi “Angklung-Orchester Hamburg” (AOH), untuk kemudian direvisi lagi menjadi “Angklung Hamburg Orchestra” (AHO). Dua minggu setelah penampilan di AAI, grup kembali tampil pada “Get Together 2002” di TUHH.

Penampilan Orkes Bambu Hamburg (OBH) pada peresmian AAI, Universitas Hamburg, 12 Juni 2002

Pada awal Agustus 2002, salah satu personil grup saat itu, Maulana Syuhada, baru saja kembali dari perjalanan budaya di Perancis, Belgia dan Jerman, “Expand The Sound of Angklung” (ESA 2002), bersama Keluarga Paduan Angklung SMA 3 Bandung (KPA 3). Maulana yang banyak menyerap pelajaran mengenai angklung selama perjalanan tersebut mencoba menerapkannya pada grup angklung di Hamburg.

Walaupun hanya dengan dua minggu latihan grup berhasil memperkaya diri dengan alat tambahan. Maka untuk pertama kalinya, pada pentas “Malam Budaya Indonesia” di Uni-Hamburg (17 Agustus 2002), grup tampil mengiringi penyanyi, Natalia Wirahadis (mahasiswa S2 jurusan Teknik Material) dan dengan menggunakan alat tambahan berupa Accompaniment (Akom) dan kendang. Pada pentas kali ini juga, untuk pertama kalinya grup menampilkan tarian poco-poco.

3.      Tahun 2003: Masa Perkembangan  

Pada awal Februari 2003, salah seorang tutor program Master, Kirsten Schroeder, akan menyelesaikan program doktor-nya. Kirsten yang sempat menyaksikan angklung tampil di acara Get Together, menghubungi Maulana dan meminta agar grup bisa tampil di acara pesta perayaan doktoral-nya. Pucuk di cinta ulam tiba. Acara untuk kembali bermain angklung yang selama ini dicari-cari akhirnya datang juga.

Namun demikian, karena pada saat itu mahasiswa Indonesia banyak yang sedang melakukan kerja praktek di luar Hamburg, dan padatnya jadwal perkuliahan, maka hanya terkumpulkan 11 orang saja. Akhirnya Maulana berinisiatif untuk mengajak mahasiswa internasional dari jurusannya untuk bergabung. Ternyata sambutannya sangat positif, apalagi ini ditujukan sebagai hadiah untuk tutor mereka. Kemudian informasi ini disebarkan ke teman-teman di jurusan-jurusan lainnya, dan semakin banyak mahasiswa asing yang bergabung. Tidak hanya mahasiswa saja, bahkan dua orang dosen pun bergabung. Pada akhirnya terkumpulkanlah 22 orang personil dengan sepuluh kebangsaan yang berbeda (Austria, Kolombia, El-Salvador, Ethiopia, Jerman, Romania, Russia, Thailand, Turki, dan Indonesia).

Tim angklung sesaat sebelum pentas poco-poco di Northern Institute of Technology (NIT), TUHH, 28 Februari 2003

Karena format acara berupa pesta, maka diputuskanlah untuk menampilkan tarian poco-poco dengan format mengajak penonton menari bersama. Namun dengan separuh lebih anggota grup adalah mahasiswa asing, tentu latihan menjadi tidak mudah. Bukan hanya karena inilah untuk pertama kalinya mereka memegang angklung, tapi banyak yang belum pernah bermain musik, apalagi sampai pentas. Ditambah lagi, lagu poco-poco, yang jangankan orang asing, orang Indonesianya pun banyak yang baru mendengar. Namun berkat kegigihan akhirnya grup bisa merampungkan lagu poco-poco lengkap dengan tariannya, dengan hanya tiga kali latihan saja. Grup juga sangat terbantu dengan kehadiran Gustya Indriyani (mahasiswa S2 jurusan Teknik Lingkungan), yang memang mantan personil KPA 3, yang langsung didaulat sebagai konduktor.

Pentas malam itu berlangsung dengan cukup sukses. Baik pemain maupun penonton menikmati goyangan tarian poco-poco dengan iringan angklung. Setelah pementasan tersebut, sebagian besar personil tetap bertahan di grup dan melakukan latihan rutin mingguan, karena bulan Mei grup akan kembali tampil di acara tahunan universitas, „Get Together“. Lebih lanjut tentang „Get Together 2003“ dapat dibaca pada buku „40 Days in Europe: Kisah Kelompok Musik Indonesia Menaklukan Daratan Eropa“ [2].

The Kiddies

Kabar suksesnya penampilan grup angklung terus meluas, dan mahasiswa asing yang bergabung pun bertambah banyak. Berkat bantuan Mba Dyah Narang-Huth, aktivis budaya di Hamburg, yang terus mempromosikan grup, akhirnya sampailah kabar perekrutan personil ini ke keluarga-keluarga Indonesia di Hamburg. Inilah awal dari bergabungnya putera puteri mereka yang masih duduk di bangku sekolah di grup angklung. Usia mereka bekisar antara 8 – 13 tahun, dengan anggota termuda Intania Rahma Arinta (8 tahun). Karena masih kecil-kecil dan imut-imut, maka anak-anak ini dikenal dengan sebutan „The Kiddies“ dengan motor-nya Sekar Mayang Wahjudi (12 thn) dan Sherlita Anesia Putri (12 thn).

Intania Rahma Arinta (baju kuning), 8 tahun, personil termuda “The Kiddies”.

Mengurus anak-anak kecil ternyata tidak gampang. Untunglah “The Kiddies” menemukan sosok keibuan di Defita Sari, biasa disapa Fita, (Mahasiswa Teknik Kimia, Uni-Hamburg) yang selalu mengayomi mereka. Sosok Fita berperan sebagai penyeimbang terhadap sosok Maulana yang terkenal galak di kalangan The Kiddies. Untuk perannya ini, maka Fita pun dikenal dengan sebutan, Ibunya anak-anak (The Kiddies).

“The Kiddies” tengah serius berlatih, September 2003.

(ki-ka: Akram, Rijal, Nadia, Anes, Fira, Mayang, Nadia, Tyas, Rinta)

The Kiddies bersama kakak-kakanya, pada Karnaval Hamburg 2003.

(Belakang (ki-ka): Iyun, Seruni, Fita, Selda, Anes, Nia; Depan (ki-ka): Fira)

Dengan jumlah yang cukup siginifikan, „The Kiddies“ menjadi bagian penting dari eksistensi grup. “The Kiddies” ini pulalah yang pada tahun-tahun selanjutnya mempelopori kebangkitan Angklung Hamburg setelah agak vacuum pada kurun waktu 2006 – 2008, dan kemudian menjadi tulang punggung Angklung Hamburg hingga sekarang.

Walaupun pentas sudah dimulai tetap saja “The Kiddies” blok belakang mah heureuy.

Memang dibutuhkan kesabaran tingkat tinggi untuk mengurus “The Kiddies”.

IGA-Rostock 2003, International Gardening Exhibition, Rostock, 12 Oktober 2003

Fita (ibunya anak-anak) dan kedua pelopor The Kiddies, Mayang dan Anes, Juni 2003

(ki-ka: Fita, Anes, Maria, Iyun, Mayang)

Agustinus Tedja: Tokoh Sentral Perkembangan AOH

Tahun 2003 ini juga ditandai dengan kembalinya Agustinus Tedja (yang akrab dipanggil Agus) pada posisi konduktor grup. Memang Aguslah yang memiliki keterampilan seni musik tertinggi dari semua personil grup yang ada. Sejak saat itu AOH mengalami perkembangan yang sangat pesat. Tahun itu Agus berhasil mengkonduktori grup angklung pada enam acara yang berbeda, yang menjadikan tahun tersibuk bagi AOH.

Agus (kiri) dan Maulana (kanan) pada acara Karneval den Kulturen Hamburg, 13 September 2003

Sejarah AOH memang tidak akan pernah bisa lepas dari sosok Agus. Beliaulah tokoh sentral dibalik kesuksesan perkembangan AOH dalam fasa pertama (2001 – 2006). Agus merupakan pelopor terbentuknya AOH, karena beliaulah yang menghadirkan angklung untuk pertama kali ke TUHH pada tahun 2001 dimana beliau bertindak selaku pelatih dan konduktor. Beliau pula yang menjadi otak di balik latihan-latihan AOH, mulai dari merancang materi latihan, membuat partitur, membuat midi lagu, hingga melatih dan menjadi  konduktor pada hari-H. Tanpa dedikasi Agus selama lima tahun (2001 – 2006), Angklung Hamburg tidak akan bisa seperti sekarang.

Tahun 2003 memang menjadi tahun tersibuk bagi AOH. Setelah sukses dengan “Get Together” di bulan Juni, AOH kembali tampil di lima acara berikutnya:

–          Batavianischer Abend, Batavia Night, Christuskirche-Eimsbüttel (21 Juni, 2003)

–          Angklung Workshop, Universität Hamburg (27 Juni 2003)

–          Karneval der Kulturen Hamburg, Cultural Carnival, Hamburg (13 September 2003)

–          IGA-Rostock 2003, International Gardening Exhibition, Rostock (12 Oktober 2003)

–          Welcoming Ceremony for New International Master Students, TUHH (17 Oktober 2003)

–          Semester Opening Ceremony WS03/04, TUHH (20 Oktober 2003)

Berpose bersama sebelum penampilan pada acara „Batavianischer Abend“, 21 Juni 2003

IGA-Rostock 2003, International Gardening Exhibition, Rostock, 12 Oktober 2003

4.      Tahun 2004: Konser Mandiri

Tahun 2004 merupakan tahun bersejarah, dimana AOH yang biasanya hanya tampil sebagai pengisi acara di even-even budaya, berhasil melakukan konser mandiri, dengan nama, “Angklung Orchester Hamburg in Concert”. Persiapan konser ini memakan waktu sekitar tujuh bulan. Konser yang berdurasi selama dua jam itu menampilkan 12 lagu, perpaduan antara lagu-lagu daerah seperti Jali-Jali, Pileuleuyan, Bengawan Solo dan lagu-lagu internasional seperti, Besame Mucho, When You Believe, dan An Der Schoenen Blauen Donau. Konser ini juga dimeriahkan dengan penampilan rampak kendang dan kacapi suling oleh grup musik sunda, “Sabilulungan”.

Poster Konser Mandiri Juni 2004, “Angklung Orchester Hamburg in Concert”, didesain oleh Ahmad Zakky Habibie (Bie).

Selain konser mandiri, di tahun ini AOH juga mencapai puncak dalam jumlah personil seiring dengan membludaknya jumlah mahasiswa Indonesia yang mengambil program S2 di TUHH yang datang di akhir tahun 2003. Di antara mereka adalah Charlie Hendrawan yang merupakan mantan konduktor Paduan Suara Mahasiswa (PSM) ITB, dan Ahmad Zakky Habibie (Bie) yang juga anggota PSM ITB. Kehadiran dua personil ini memberikan dampak yang sangat signifikan bagi perkembangan angklung Hamburg. Jumlah personil asing juga mencapai puncaknya pada tahun ini, dengan bergabungnya mahasiswa dari Mexico, Venezuela, India, dan Vietnam, menjadikan grup memiliki personil dari 14 bangsa yang berbeda.

Susana “Angklung-Orchester Hamburg in Concert”, Audimax II, TUHH, 14 Juni 2004

Sejak tahun 2004, tongkat estafet konduktor utama pun berpindahtangan dari Agus kepada Charlie yang memang pernah terpilih sebagai konduktor terbaik dalam salah satu kompetisi paduan suara mahasiswa berskala nasional. Agus meneruskan kiprahnya sebagai koordinator Music Department di dalam grup, dan terus melatih grup bahu membahu bersama Charlie. Sedangkan Bie langsung mengambil peran sebagai penyanyi grup (mendampingi Veronica Kangean) sekaligus mengambil alih posisi pemain akom dari Mariati Abdulkadir (Iyun) yang masa studinya akan segera berakhir.

Pada tahun 2004 juga, grup mulai memiliki struktur formal sebuah organisasi. Organisasi ini dipimpin oleh seorang ketua (Maulana Syuhada) yang membawahi lima koordinator divisi, Agustinus Tedja (Music Dept.), Defita Sari (Logistic Dept.), Zelda Guener (Information Dept.), Oscar Platas (Marketing), Veronica Novita (Bendahara).

Charlie saat melatih grup di Probenraum, TUHH, November 2003

Bie menyanyikan lagu “Keroncong Kemayoran” pada International Gardening Exhibition, 12 Oktober 2003

Pada tahun ini pula AOH berhasil melakukan konser di Gymnasium Finkerwerder, tempat dimana beberapa anggota „The Kiddies“ bersekolah. Mayang yang merupakan anggota paling senior dari „The Kiddies“ bertindak selaku penyanyi utama. Lantunan suara Mayang ketika menyanyikan lagu When You Believe ini bukan hanya membuat para penonton terpesona, tetapi juga membuat guru musik Mayang, Frau Dorothea Tirpitz, menangis terharu. Ini merupakan salah satu kenangan terindah pentas AOH yang akan selalu diingat sampai kapanpun.

Mayang melantunkan lagu “When You Believe” pada Sommerkonzert, Gymnasium Finkenwerder, 15 Juni 2004.

Website

Wesbsite Angklung Hamburg berpindah-pindah dari waktu ke waktu seiring dengan bergantinya kepengurusan dan personil grup. Tercatat ada tiga website yang bisa menjadi sumber informasi tentang Angklung Hamburg , antara lain :

–          Periode 2002 – 2003 (AOH), http://www.sabilulungan.org/angklung/hamburg/Index.html

–          Periode 2003 – 2004 (AOH, a.k.a. angklung.de), http://www.angklung.org

–          Periode 2009 – sekarang (AHO), http://www.angklunghamburg.de

Referensi

[1] Tedja, A., 2008. Perjalanan Angklung-Orchester Hamburg.

[2] Syuhada, M.M., 2007. 40 Days in Europe: Kisah Kelompok Musik Indonesia Menaklukan Daratan Eropa, Bentang Pustaka, Indonesia.

Lampiran

–          Foto-foto AOH

–          Personil AOH (2001 – 2004)

Lampiran A: Foto-foto AOH

Get Together 2002, TUHH, 28 Juni 2002

Malam Budaya Indonesia dalam rangka Peringatan HUT RI, AAI, Uni-Hamburg, 17 Agustus 2002

Agus memimpin grup pada Get Together 2003, TUHH, 20 Mai 2003

Trio Kendang, Indonesia-Mexico-Colombia, Get Together 2003, TUHH, 20 Mai 2003

Veronica Kangean mendendangkan Poco-poco, “Get Together”, TUHH, 20 Mai 2003)

Thomas Limurti (kiri atas) memimpin tarian poco-poco, “Get Together”, TUHH(20 Mai 2003

Suasana Workshop Angklung, Universität Hamburg, 27 Juni 2003

Suasana Workshop Angklung, Universität Hamburg, 27 Juni 2003

“Batavianischer Abend”, Christuskirche-Eimsbüttel, 21 Juni, 2003

Konjen Hamburg, Bapak I.B. Putu Djendra ikut larut dalam dendang poco-poco “Malam Betawi”, 21 Juni, 2003

Veronica Kangean (vocal) dan Stanley Caramoy (bass) pada “Malam Betawi”, 21 Juni 2003

Dr. Kirsten Schröder (kiri) dan Dr. Eva-Maria Kern (tengah), dua dari staff TUHH yang berpartisipasi pada „Malam Betawi“,  21 Juni, 2003

Duet Kendang Indonesia-Mexico, “Malam Betawi“, 21 Juni, 2003

None-none Betawi, “Batavianishcer Abend”, 21 Juni, 2003

(ki-ka: Emi, Almi, Manli, Aida, Iyun, Vero, Eva-Maria, Anes, Kirsten, Mayang, Inggrid, Selda, Truong, Lusi, Vanda)

Abang-abang Betawi, “Batavianisher Abend”, 21 Juni 2003(belakang, ki-ka: Thomas, Agus, Prana, Erwin, Denis, Akram, Oscar; depan (ki-ka): Yuki, Stanley, Mekonnen, Sergio, Ijal, Boby, Rizky, Ryan, Maulana)

Jadwal latihan yang padat menyebabkan tukang kendang pun tidak sempat mandi, “Malam Betawi“, 2003

Suasana latihan menjelang Karnaval, KJRI Hamburg, September 2003

Pawaipada Karneval der Kulturen Hamburg, Hamburg, 13 September 2003

Preman “The Kiddies” kecapean, Karneval der Kulturen Hamburg, Hamburg, 13 September 2003

Kakaknya preman “The Kiddies” ikut kecapean juga, Karneval der Kulturen Hamburg, 13 September 2003

Berfoto bersama grup Kantuta dari Bolivia, Karneval der Kulturen Hamburg, Hamburg, 13 September 2003

Berfoto bersama grup Falun Dafa dari China, Karneval der Kulturen Hamburg, Hamburg, 13 September 2003

Jawara-jawara AOH (ki-ka): Boby, Fajar, Raymond, Budi, Prana, Hamburg, 13 September 2003

Bongkar angklung dari bus, Rostock, 12 Oktober 2003

Gladi Resik, International Gardening Exhibition, Rostock, 12 Oktober 2003

Briefing sebelum pentas, International Gardening Exhibition, Rostock, 12 Oktober 2003

Penampilan grup angklung, International Gardening Exhibition, Rostock, 12 Oktober 2003

Welcoming Ceremony for New International Master Students, TUHH, 17 Oktober 2003

Pose grup, “Angklung Orchester Hamburg”,  TUHH, Oktober 2003

Semester Opening Ceremony WS03/04, TUHH, 20 Oktober 2003

Angklung-Orchester Hamburg in Concert”, Audimax II, TUHH, 14 Juni 2004

Angklung-Orchester Hamburg in Concert”, Audimax II, TUHH, 14 Juni 2004

Angklung-Orchester Hamburg in Concert”, Audimax II, TUHH, 14 Juni 2004

Vokal grup saat mengiringi lagu “When You Believe”, “Angklung-Orchester Hamburg in Concert”, Audimax II, TUHH, 14 Juni 2004

Suasana Sommerkonzert, Gymnasium Finkenwerder, 15 Juni 2004.

Bie melantunkan lagu “Jali-jali” pada Sommerkonzert, Gymnasium Finkenwerder, 15 Juni 2004.

Makan-makan baso setelah penampilan di Gymnasium Finkenwerder, Rumah Mayang, 15 Juni 2004.

Charlie memimpin grup pada pesta musim panas Universitas Hamburg, AAI, Juni 2004

Leonellha Barreto Dillon, mahasiswa S2 dari Venezuela, saat menyanyikan lagu “Besame Mucho”, AAI, Juni 2004

Penampilan grup pada pesta musim panas Universitas Hamburg, AAI, Juni 2004

Suasana latihan yang santai di Probenraum, TUHH, September 2003

Mba Dyah Narang-Huth membawa oleh-oleh ke tempat latihan angklung, Probenraum, TUHH, Sep. 2003

Walaupun yang datang sedikit, tapi latihan jalan terus, Probenraum, TUHH, November 2003

Suasana latihan rutin di Probenraum, TUHH, November 2003

Salah satu personil “The Kiddies” sedang ngoprek-ngoprek drums: Asal mula karir Ihsan “The Kiddies” di dunia perkusi, Probenraum, TUHH, November 2003

Lampiran B: Personil AOH (2001 – 2004)

 

This entry was posted in Culture. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s