[#9] #SaveMaryam dan Potensi Konflik Antar Umat Bergama di Indonesia

#SaveMaryam dan Potensi Konflik Antar Umat Bergama di Indonesia
Oleh Maulana M. Syuhada
5 Agustus 2012

Setelah menonton video SaveMaryam yg begitu vulgar dan bombastis, reaksi pertama saya yang muncul adalah marah kepada Mercy Mission karena fakta-fakta yang didramatisir; kedua, malu kepada teman-teman Kristiani dan agama lainnya (kok bisa2nya sebuah agama yg katanya cinta damai menggunakan cara vulgar dan provokatif dalam dakwah-nya); dan ketiga, khawatir akan terjadi konflik antar umat beragama dan radikalisasi.

Saya sudah bicara panjang lebar bagaimana kampanye SaveMaryam ini benar-benar menghina umat Islam Indonesia yang dianggap bodoh dan naif sehingga 2 juta orang murtad per-tahun sampai tidak tahu; tidak mengerti agama sehingga perlu diimpor Syeikh-Syeikh dari luar negeri; tidak terpelajar sehingga hanya diberi sedikit tabel excel saja akan langsung terkesima wah; “kuper” sehingga pasti akan takjub dengan laporan ngawur asalkan ditulis dalam bahasa Inggris; mudah dihasut sehingga pasti mendukung kampanye yang memojokkan umat Kristen.

Ternyata asumsi Mercy Mission itu salah. Mereka tidak tahu kalau intelektual-intlektual kita bukan hanya tersebar dari sabang sampai Merauke, tapi juga dari Boston, Amerika Serikat sampe Canberra, Australia, dari Sandvika, Norwegia, sampai Malangbong City, Garut.

Lantas bagaimana dengan teman-teman Kristiani?

Sudah lama saya ingin menulis tentang ini, hanya belum sempat saja. Terus terang saya benar-benar malu begitu melihat video ini. Yang pertama terbayang di kepala saya adalah teman-teman Kristiani yang selama ini menjadi sahabat saya, baik itu teman kuliah, teman angklung, teman dulu di SMA, dan lain-lainnya. Selama ini kita hidup berdampingan dengan harmonis, berteman dan berinteraksi tanpa terhalang batas agama.

Baru saja bulan April yang lalu teman-teman Muslim dan Kristen bahu-membahu menyelenggarakan Indonesian Cultural Night (ICN) di Manchester, sebuah acara kultur yang cukup besar yang membutuhkan kerja sama tim dan semangat kebersamaan yang tinggi. Kami bekerja bersama, menyiapkan acara bersama, berlatih seni bersama untuk mengisi acara ICN tanpa menyandang atribut agama. Yang ada adalah atribut bahwa kami sama-sama pelajar Indonesia.

Video SaveMaryam berpotensi merusak hubungan harmonis antar umat beragama yang telah kita nikmati bersama ini. Walaupun demikian, untuk kaum terdidik, seperti pelajar-pelajar di Manchester, hubungan baik sesama pelajar yang berbeda agama tidak akan terprovokasi. Interaksi akan terus berjalan normal seperti biasa. Teman-teman di Manchester sudah cukup dewasa untuk menyikapi video hasutan yang berpotensi memecah belah bangsa ini.

Salah satu alasan mengapa saya langsung menulis “notes” menentang SaveMaryam, diantaranya adalah untuk menunjukkan kepada teman-teman Kristiani bahwa cara-cara vulgar, manipulatif dan provokatif yang dilakukan Mercy Mission bertentangan dengan ajaran Islam dan bukanlah bagian dari atribut Muslim. Itu hanya kelakuan sesat sebagian kecil Muslim yang beraliran ekstrim.

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa toleransi antar umat beragama merupakan bagian integral dalam ajaran Islam. Pada zaman Nabi Muhammad S.A.W, semua penduduk diberi jaminan untuk dapat melaksanan ajaran agamanya masing-masing, bahkan setiap individu warga Madinah kala itu, terlepas apakah dia muslim, yahudi, nashrani dsb., diberi proteksi keamanan penuh oleh pemerintah dari serangan musuh dari luar. Setiap warga memiliki kedudukan yang sama dalam hukum, dan dijamin hak asasinya.

Ada sebuah cerita yang cukup masyhur di zaman kekhalifan Ali bin Abi Thalib, ketika seorang Yahudi yang dituduh mencuri baju perang Ali diseret ke pengadilan. Walaupun Khalifah Ali, sang kepala negara, tahu bahwa orang Yahudi inilah pencurinya, namun karena tidak cukup bukti, orang Yahudi tersebut bebas secara hukum. Melihat keadilan ini, Yahudi tersebut mengaku mengambil baju perang tersebut dan mengembalikannya kepada Khalifah Ali. Ini menunjukkan bahwa setiap warga negara punya kedudukan yang sama di mata hukum tanpa mengenal jabatan, suku dan agama, tidak peduli apakah sang penggugat orang nomor satu di negara tersebut, seorang muslim terpandang, berada di negara Islam, dan si tertuduh adalah seorang yahudi kelas papa, semuanya sederajat di mata hukum.

Hal senada disampaikanl oleh Irfan Amalee, pendiri Peace Generation Indonesia yang juga mantan CEO Mizan Pelangi, yang tengah melakukan studi S2 Persamaian di Boston, Amerika Serikat, dalam tulisannya yang berjudul “Dakwah dengan Kasih Sayang, Bukan Ketakutan & Kebencian”. Berikut kutipannya:

“Mengapa kita harus berdakwah sambil memupuk kebencian pada umat atau bangsa lain. Ya, kita punya masalah ancaman akidah, terutama di kalangan muda, tapi mengapa kita harus mengarahkan telunjuk seolah mengatakan bahwa penyebabanya adalah “mereka yang di luar sana”.

Kebohongan dan maipulasi data setidaknya menimbulkan tiga efek yang fatal bagi umat Islam sendiri. Pertama, orang akan melihat umat Islam sebagai pemanipulasi data demi mencapai tujuan. Gambaran ini sungguh menyakitkan di tengah usaha sebagian umat Islam untuk mempebaiki citra umat di mata dunia. Kedua, dunia memandang bahwa umat Islam sangat mudah diperdaya dan diprovokasi oleh informasi palsu. Kita tak punya budaya kritis dan teliti dalam mencerna informasi. Padahal Allah telah memerintahkan kita agar selalu tabayyun (check and recheck sebelum mempercayainya dan menyebarkannya) jika mendapat sebuah informasi.”  [1]

Lain di Manchester, lain Indonesia. Kalau di Manchester, teman-teman pelajar dari kedua agama dapat menyikapi video SaveMaryam dengan dewasa, di tanah air kita, terutama di tempat-tempat rawan konflik, seperti Bekasi misalnya, video ini bisa memprovokasi kelompok Islam garis keras. Kita semua sudah sama-sama menyaksikan bagaimana kota Bekasi kerap menjadi lahan pertarungan antara dua kubu haluan keras Islam dan Kristen.

Adalah sebuah ironi bahwa laporan ICG (International Crisis Group) tahun 2010 yang berjudul “Christianisation and Intolerance” [2] yang dijadikan rujukan utama Mercy Mission dalam menjustifikasi program #SaveMaryam ternyata adalah sebuah laporan yang memapakarkan bagaiman toleransi beragama di Indonesia semakin menurun sejalan dengan meningkatnya konflik antara kelompok garis keras Islam dengan beberapa organisasi penginjil (evangelist) yang giat melakukan kristenisasi di Bekasi. Dalam laporannya, ICG menyebutkan bahwa pihak muslim menggunakan isu “Kristenisasi” sebagai alasan untuk aksi mobilisasi massa dan main hakim sendiri.

“Ketegangan yang disebabkan oleh bentrokan antara dua “fundamentalisme” (Islam dan Kristen) ini sangat terlihat di Bekasi, dimana sejumlah sengketa sejak tahun 2008 mengenai pembangunan gereja, tuduhan adanya upaya baptis masal serta penghinaan terhadap Islam telah memicu terjadinya beberapa kasus kekerasan. Pemerintah perlu strategi untuk menangani intoleransi beragama yang semakin meningkat. Tanpa strategi yang jelas, penghakiman massa yang menang. Biasanya pejabat daerah baru akan menangani kasus ketika insiden itu sudah lepas kendali dan biasanya para pejabat menyerah kepada kelompok yang paling nyaring suaranya. Setiap kali terjadi, pihak yang menang menjadi semakin berani berkonfrontasi.”  [2], [3]

Dalam paragraf lain ICG juga memaparkan:

“Diantara banyak alasan mengenai pentingnya mengembangkan sebuah strategi untuk mengurangi ketegangan antar agama, yang juga perlu mendapat perhatian khusus adalah : Isu “Kristenisasi” mungkin bisa membuat kelompok agama yang sebelumnya berjuang tanpa kekerasan bekerjasama dengan para ekstrimis yang violent.“  [2],[3]

Alih-alih ikut membantu menyelesaikan masalah, meredam konflik dan mempromosikan toleransi dan perdamaian, Mercy Mission malah menyiramkan bensin ke bara api. Oleh karenanya tak heran jika ICG menuduh SaveMaryam melakukan tindakan yang justeru semakin memperdalam konflik:

„ ICG concludes by urging the Indonesian government to undertake a series of steps to nurture religious tolerance. Your distortion of our report suggests that you are trying to do exactly the opposite.”  (Sidney Jones, International Crisis Group: Senior Adviser, Asia Program, Jakarta) [4]

Distorsi dan pemelintiran fakta yang dilakukan oleh Mercy Mission sudah dalam skala yang sangat serius. Mercy Mission memutarbalikkan fakta laporan ICG yang sangat khawatir akan kondisi toleransi agama di Indonesia dan mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan tegas untuk meredam konflik agama, menjadi sebuah kampanye yang memprovokasi konflik antar umat Islam dan Kristen dengan mengarang angka 2 juta pertahun dan menghasut umat Islam bahwa di tahun 2035 mereka akan kehilangan mayoritasnya akibat gerakan kristenisasi.

Kampany #SaveMaryam ini bukan hanya berpotensi memecah belah rakyat Indonesia, tapi juga berpotensi memecah belah umat Islam. Sebagaimana disebutkan dalam laporang ICG tersebut, bahwa isu “Kristenisasi” bisa membuat kelompok agama yang sebelumnya berjuang tanpa kekerasan bekerjasama dengan para ekstrimis yang violent. Oleh karenanya kelompok umat Islam yang berpegang teguh kepada prinsip toleransi dan perdamaian akan berhadapan bukan saja dengan kelompok Islam garis keras, tetapi bisa jadi juga dengan kelompok Islam yang sebelumnya berjuang tanpa kekerasan.

Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh pemuka agama Kristen, Pendeta Ioanes Rakhmat, dalam blog-nya:

“Saya melihat, ketimbang bisa membantu Muslim Indonesia, proyek SAVE MARYAM ini potensial memecahbelah bangsa kita, memecah belah sesama Muslim Indonesia, dan membenturkan umat Islam dan umat Kristen. Inilah bahaya potensialnya!”  [5]

Gejala potensi akan perpecahan ini sudah terlihat dalam debat-debat sengit antara kedua kubu di dunia maya. Pemerintah perlu secepatnya mengambil tindak tegas terhadap kampanye #SaveMaryam sebelum kedua potensi perpecahan baik antara umat Islam dan Kristen, dan antara sesama umat Islam, membesar dan menjadi kenyataan.

Apakah Mercy Mission pernah berpikir tentang potensi perpecahan ini sebelum mereka melancarkan kampanye #SaveMaryam?

Apakah Mercy Mission peduli terhadap persatuan dan keutuhan bangsa Indonesia?

Jangankan peduli terhadap keutuhan bangsa, lembaga non-profit asing ini, mengenal budaya Indonesia saja tidak.

Indonesia adalah negara yang unik dimana umat dari enam agama dan lebih dari 300 suku bisa hidup berdampingan secara harmonis tanpa mempermasalahkan atribut agama. Apakah kita akan diam, jika keindahan budaya toleransi dan kerukunan yang telah kita nikmati berabad-abad ini berpotensi hancur, diacak-acak oleh kelompok asing yang tidak bertanggung jawab?

Adalah tugas bersama umat Islam dan Kristen untuk sama-sama menjaga dan mempertahankan nilai-nilai hulur budaya kerukunan dan kebersamaan ini. Kami umat Islam akan terus berusaha untuk meluruskan minoritas saudara-saudara kami yang menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan dakwahnya, begitu pula kami meminta umat Kristen untuk aktif meluruskan sebagian minoritas saudara-saudaranya yang melakukan upaya-upaya kristenisasi secara vulgar dan agresif. Hal ini sejalan dengan himbauan dari Pendeta Ioanes Rakhmat yang ditulis dalam blognya:

“Sudah seharusnya proyek 2 juta USD  SAVE MARYAM yang sudah digelindingkan ini memicu umat Kristen evangelikal revivalistik di Indonesia untuk memeriksa diri, tahu diri, bertafakur, dan mengembangkan kepekaan sosial mereka. Dan, pada pihak lainnya, adalah juga kewajiban kita semua, Muslim dan Kristen, untuk mencari dan menemukan fakta-fakta, dan menolak asumsi, pemalsuan data, fiksi, mitos, prasangka, kebencian dan kemarahan.” [5] 

Sebagai individu, kontribusi yang dapat saya lakukan hanyalah menulis artikel untuk memberikan pencerahan baik kepada bangsa Indonesia maupun dunia luar. Sudah saatnya pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap kampanye #SaveMaryam untuk mencegah potensi konflik agama yang bisa terjadi. Di samping itu, keterlibatan organisasi-organisasi Islam seperti Muhammadiyah, NU, Persis, dsb., dan juga organisasi-organisasi Kristen,  sangat diperlukan untuk memberikan ketenangan dan kesejukan kepada umat yang tengah resah ini.

Facebook:
Tulisan ini dapat juga dibaca di note facebook Maulana:
http://www.facebook.com/notes/maulana-m-syuhada/9-savemaryam-dan-potensi-konflik-antar-umat-bergama-di-indonesia/10151154703552238

Referensi

[1] Amalee, Irfan, Dakwah dengan Kasih Sayang, Bukan Ketakutan & Kebencian, Mizan.Com, 6 Agustus 2012.
http://mizan.com/news_det/irfan-amalee-dakwah-dengan-kasih-sayang-bukan-ketakutan–kebencian.html

[2] International Crisis Group (ICG), Indonesia: “Christianisation” and Intolerance, 24 November 2010, Asia Briefing N°114. http://www.crisisgroup.org/~/media/Files/asia/south-east-asia/indonesia/B114%20Indonesia%20-%20Christianisation%20and%20Intolerance.pdf

[3] International Crisis Group (ICG), Indonesia: “Kristenisasi” dan Intoleransi, 24 November 2010, Asia Briefing N°114. http://www.crisisgroup.org/en/regions/asia/south-east-asia/indonesia/B114-indonesia-christianisation-and-intolerance.aspx?alt_lang=id

[4] Syuhada, Maulana M., [#4] ICG demanded #SaveMaryam to remove all references to ICG, “Facebook Note”, 29 Juli 2012. http://www.facebook.com/notes/maulana-m-syuhada/4-icg-demanded-savemaryam-to-remove-all-references-to-icg/10151137849167238

[5] Rakhmat, Ionaes, Misi Muslim Save Maryam!, Blog Pribadi,  27 Juli 2012.
http://ioanesrakhmat.blogspot.co.uk/2012/07/misi-muslim-save-maryam.html

This entry was posted in Save Maryam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s