Knowledge is Power but Character is More!

alay1

Anak-anak sekarang kok cenderung “cuek”, tidak peka lingkungan dan rendah  kesopanannya ya? Saya pikir ini cuma terjadi pada ABG2 SMP-SMA saja, tapi ternyata mahasiswa2pun banyak yang bertingkah laku serupa, bahkan dari kampus ternama sekalipun.

Sejak mesantren di perpus ITB, sudah banyak kejadian yang membuat saya prihatin akan karakter anak-anak muda jaman sekarang.

Pernah suatu ketika, saya sedang enak2 kerja di sudut perpus, tiba2 ada suara musik kenceng dari meja di seberang. Terus terang saya kaget, pertama kali dalam sejarah saya mendengar orang membunyikan musik di perpustakaan. Langsung saya tegur dari meja saya,
“Mas, bisa ga volumenya dikecilin?”
Anak ini nyantei aja, seolah tidak terjadi apa2 (taunya dia pake earphone dengan volume yg super tinggi, mangkanya ga kedengeran).  Baru setelah dikasih tahu temen sebelahnya, dia lepas.
Kata temennya “Tuh, kan apa kata gue juga!”
Tanpa ada satu patah katapun (apalagi minta maaf), dia kecilkan musiknya, setelah itu sudah lempeng saja (seolah tak terjadi apa2).

Lain waktu, seorang anak datang dan duduk persis di meja depan saya, buka laptop dan langsung nyetel youtube. Karena tidak pakai earphone, suara langsung datang dari speaker dan jelas terdengar oleh semua orang yang duduk di “section” tersebut. Langsung saya tegur, “Mas, bisa pake earphone engga?”
Diapun menjawab, “Ga ada!” (tanpa sama sekali ekspresi bersalah).
Dengan cueknya dia terusin nonton youtube. Baru setelah saya memperlihat gesture sangat terganggu (baca: naga2 akan ngamuk) baru dia me-mute-kan laptopnya. Dan beberapa saat kemudian pindah.

Saya juga sering sekali terganggu dengan mahasiswa yang ribut, ngobrol ga karuan di perpus. Kalau ngobrolnya masalah pelajaran, masih saya maklumi, tapi kalau udah topik sama sekali ga penting, ini benar2 mengganggu. Mungkin karena perpus ITB sudah direnovasi besar2an dan menjadi nyaman dan ber-AC, jadilah ia alternatif tempat nongkrong anak2, mulai dari nonton film kartun bareng2 sampe tempat pacaran. Dan anak2 sekarang kalo pacaran sangat berani dan ga malu bermesra2an di depan umum. Jangan salah, busana boleh berjilbab, tapi mesra2an, pegang2an, sampai tidur2an di pundak jadi hal yang biasa. Jadi jilbab itu bukan jaminan.

Malam kemaren, kesabaran saya habis. Menjelang magrib, datang sepasang mahasiswa, dan duduk di meja seberang. Setelah buka lapotp, mereka langsung ngobrol kenceng sambil ketawa cekikian. Topiknya sama sekali bukan pelajaran, topik2 ABG ga penting. Seperempat jam berlalu, saya ga bisa konsentrasi dengan kerjaan. Seorang mahasiswa yang duduk di seberang juga pindah duduknya ke dekat saya karena terganggu. Akhirnya saya tegur dari meja saya,
“Mas, bisa ga suaranya dipelanin!”
“Oh iya” (jawabnya singkat, tanpa ada rasa malu sedikitpun).
Suara pun mulai pelan.

Tapi setelah 15 menitan, suara mulai kembali ke volume semula, disertai dengan ketawa2 cekikikan. Habis kesabaran saya, akhirnya saya datangi mejanya.
“Kamu angkatan berapa?” (dengan tampang swasta judes yang siap ngospek).
Merasa kaget, diapun langsung membenarkan posisi duduk, dan menurunkan kakinya yang tadinya ditaruh di kursi.
Sambil membungkuk2an kepala, dia menjawab,
“2010”
“Kamu tahu ini perpustakaan?
“Iya maaf”
“Kamu lihat, semua orang di sini kerja, cuma kamu berdua yang ngobrol sambil ketawa2”
“Iya, maaf kang”
“Anak ITB itu bukan cuma dituntut pintar saja, tapi juga harus peka dengan lingkungan sekitar. Percuma kamu lulus ITB kalau cuma otaknya aja yang pintar tapi ga punya kepekaan, jadinya nanti akan sama dengan pemimpin2 kita yang ga punya kepekaan sosial.”
“Iya kang!”
Saya pun pergi ke bawah untuk sholat Maghrib.

*) satu kredit point buat dia, dia manggil saya “Kang”🙂 Untuk pertama kalinya di lingkungan ITB saya dipanggil Kang🙂 (biasanya “Mas” atau malah “Bapak”, hehehe…. mungkin karena tampang juga udah bapa2 sekarang :DD)

Terus terang saya kok prihatin ya dengan karakter anak2 sekarang. Saya jadi inget semboyan waktu di SMA dulu, “Knowledge is power, but character is more!” Dan itu yang saya pegang sampe sekarang. Saya jauh lebih menghargai orang2 yang punya karakter (akhlak) (terlepas dari kecerdasan otaknya), daripada orang2 pintar yang ga berkarakter.

Kalau saya dikasih kesempatan untuk mengabdi di bidang pendidikan, maka saya akan menekankan pada pembangunan karakter, dibanding dengan sibuk mencetak orang2 berotak pintar tapi tak punya karakter.

~dari lantai 3 perpus itb~

This entry was posted in Social and Community. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s