Lagi2… mereka membuat saya iri!

lok_kupang

Setelah satu minggu dibuat miris dengan kelakuan banyak mahasiswa ITB – yg katanya merupakan generasi harapan bangsa, calon2 pemimpin Indonesia di masa depan – yang serba cuek, individualis dan beberapa bahkan tidak tahu sopan santun (baca http://www.facebook.com/notes/maulana-m-syuhada/knowledge-is-power-but-character-is-more/10151616656937238).  Hari ini optimisme saya bergelora lagi – lagi2, setelah nonton Kick Andy – setelah melihat bagaimana perjuangan saudara-saudara kita di NTT yang penuh dengan ketulusan mengabdi demi kemajuan masyarakatnya tanpa pamrih. Sebut saja, Pa Jony yang memilih keluar dari kehidupan nyamannya, keluar dari pekerjaannya sebagai PNS, sebagai dosen di Kupang, dan memilih tinggal di desa yang sangat terpencil (perlu waktu 6 jam dan medan yg berat utk mencapai desa ini dari Kupang), mendirikan sekolah, Pusat Kegiatan Belajar Mengajar untuk mencerdaskan dan meningkatkan taraf hidup warga desa, atau Ibu Ita yang mendirikan posyandu dan sekolah dasar padahal dirinya sendiri tak lulus SD, atau kumpulan anak2 muda geng motor yang aktifitasnya menjelajahi desa2 di NTT untuk memberikan pelatihan pertanian dan peternakan, menerapkan teknologi tepat guna yang mereka dapat dari kampus.

Berbeda dengan Hary Tanoesudibjo yang hampir tiap hari fotonya (atau foto isterinya, atau perindo atau hanura) yang lagi bagi2 sembako dll, nampang di koran Sindo, mereka di NTT ini amat sangat jauh dari hingar bingar liputan media massa. Karena memang bukan itu yang mereka cari. Mereka bekerja dari hati, sukarela, tanpa pamrih, swadaya tanpa ada satu perakpun bantuan dari pemerintah. Di sunyinya desa terpencil, mereka terus berjuang tanpa mengenal lelah. Kadang orang berpikir, kok mau2nya mereka berkorban, dan menderita seperti itu, bahkan Ibu Ita ketika melakukan penyuntikan imunisasi pertama ke balita di kampungnya sempat diancam warga dengan parang karena dianggap membahayakan anak2 mereka, tapi dia tigak gentar. Dengan sabar dan tanpa kenal lelah, beliau terus berjuang guna meningkatkan taraf kesehatan anak2 di desanya. Percayalah kawan para pejuang2 ini tidak sedang menderita, justeru mereka sedang menjalani kehidupan yang bahagia, bahagia dalam arti sesungguhnya, bahagia ketika mereka bisa berbuat sesuatu bagi orang lain, bisa berguna bagi orang lain, bisa mencerdaskan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat, pendeknya mereka bisa membuat orang lain menjadi bahagia. Itulah hakikat kebahagiaan sesungguhnya.

Di tengah carut-marutnya kepemimpinan negeri ini, ternyata masih banyak energi positif super besar yang dimiliki bangsa ini. Saya yakin masih banyak Pa Joni – Pa Joni dan Ibu Ita – Ibu Ita lainnya yang tengah berjuang di pelosok2 daerah dari Sabang sampai Merauke. Tapi mereka jauh dari liputan media, dan memang mereka tidak mengharapkan liputan media, pujian, piala, dsb. (apalagi sampai masang foto2 bagi2 sembako untuk promosi diri seperti Hayry Tanoe dan pembesar2 lainnya yang gila pencitraan). Mereka ini bekerja dengan hati, kebahagiaan mereka adalah ketika melihat warga desanya maju, warga desanya bisa bersekolah, warga desanya bisa membaca, berhitung, bisa bertani dan berternak dengan baik, ketika harkat, martabat, kesejahteraan warganya terangkat.

Optimisme saya akan negeri ini kembali bergelora!

Jadi teringat, ketika saya dicolek Mba Vina Adriani waktu saya bingung, jumat malem pilih nonton kickandy atau x-factor. Emang keterlaluan saya, berani2nya membanding2kan kick Andy dengan produk imperialis Amerika macam x-factor. Yah, namanya juga manusia kadang bener, kadang salah, asal jangan kebanyakan aja salahnya🙂 (walau demikian saya tetap dukung Fatin!😉

Jadi teman… optimislah!
Mungkin kita belum bisa seperti mereka… tapi minimal… kita tidak kehilangan optimisme… minimal kita ikut bahagia dengan apa yang telah mereka lakukan… dan mudah2an suatu hari kita bisa berbuat seperti mereka…

Yang jelas saya pribadi, dibalik kebahagiaan dan kebanggaan saya melihat perjuangan2 saudara2 kita di NTT, saya amat sangat sangat sangaaaaaaaat iri sekali dengan semua pencapaian mereka… Rasanya kok… saya ini jauh sekali belum bisa berbuat apa2…

Mudah2an perasaan iri ini jadi langkah awal untuk bisa meneladani mereka, dan berbuat sesuatu yang kongkrit yang bisa bermanfaat bagi masyarakat…

Jadi tetap optimis

dan mari bergerak…!

~ bukan dari lantai 3 perpus itb, karena di perpus ga bisa nonton Kick Andy🙂 ~

This entry was posted in Social and Community. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s