Mahasiswa ITB: Dari nonton film berjamaah hingga main kartu!

Main kartu di perpus itb - 3 Sep 2013 (black)-R2
Sekelompok mahasiswa ITB tengah bermain kartu remi di perpustakaan (Perpustakaan Pusat ITB, Lt.3, 3 September 2013)

 

“Kalian tahu ini perpustakaan? Kalian gak malu, sementara orang sekeliling kalian belajar, kalian ribut main kartu! Percuma kalian lulus dari ITB cuma ngandelin otak pinter tapi gak punya kepekaan sama lingkungan sekitar! Percuma kalian punya IPK tinggi (kalau sama sebelah saja ga peduli).”

Untuk kesekian kalinya saya membubarkan mahasiswa yang sedang bermain kartu di perpustakaan ITB. Dan kali ini, saya berhasil mengabadikannya fotonya. Saya sebenarnya duduk di pojok ruangan, dan mereka menggelar “partai” agak di tengah ruangan, terhalang rak-rak buku yang besar, tapi saking kerasnya suara tawa dan ribut mereka, sampai jelas terdengar ke penjuru ruangan.

Ini bukan hal baru, hampir setiap hari selama setengah tahun terakhir, saya menemukan dan menegur mahasiswa yang tidak menghormati etika perpustakaan, apakah yang mengobrol dengan suara kencang, yang menyetel musik, main game (semuanya tanpa earphone), ataupun yang menonton film secara berjamaah sambil tertawa terbahak-bahak bak sedang menonton layar tancep.

Kondisi ini tentu menyedihkan. Sepertinya kepekaan sosial sudah mulai luntur dari pribadi anak-anak jaman sekarang. Banyak dari mereka yang menjadi makhluk-makhluk individualis yang tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya.

Minggu lalu, saya mengikuti “diskusi sore” di perpustakaan ITB yang berjudul, “Pesan Bagi Warga Republik”, yang diadakan oleh Moedomo Learning Initiatives (MLI). Pembicaranya adalah Gigay Citta Acikgen (Gea), mahasiswa tingkat II jurusan filsafat UI yang esai-nya, “Jika Aku Menjadi Menteri Pendidikan”, terpilih menjadi naskah terbaik Kompetisi Esai Mahasiswa Menjadi Indonesia 2012 yang diadakan oleh Tempo.

Di tengah-tengah keprihatinan akan sikap dan mentalitas generasi muda kita, muncul tokoh-tokoh muda inspiratif seperti Gea yang memiliki kepedulian terhadap negeri ini. Sore itu ia berujar,

“Kebanyakan dari kita sepertinya hanya sebatas “tahu” saja terhadap jutaan permasalahan yang ada di hadapan kita, tapi tidak tergerak untuk melakukan aksi kongkrit untuk memperbaiknya. Kita seharusnya tidak diam, tetapi turun tangan ikut membantu memecahkan permasalahan yang ada di bangsa ini.”

Pernyataan dari Gea ini ibarat seteguk air di padang pasir. Saya pun ikut meramaikan diskusi dan mengemukakan keprihatinan saya akan tingkah-laku sebagian mahasiswa ITB yang tidak punya kepekaan sosial dan tata krama.

“Mereka itu, jangankan berkeinginan untuk memperbaiki masalah-masalah yang melanda bangsa ini, terhadap orang di sebelah saja mereka tidak peduli. Setelah satu minggu dibuat jengkel, dengan kelakuan mahasiswa-mahasiswa ITB di perpustakaan, hari ini optimisme dan harapan saya kembali bangkit. Saya sangat bangga dengan tokoh-tokoh muda seperti Gea. Anak-anak muda seperti Gea inilah sesungguhnya harapan kita di masa depan.”

Namun “tampaknya” ada satu atau dua hadirin yang kelihatannya tidak suka dengan kritikan-kritikan saya terhadap mahasiswa ITB. Tampaknya mereka tidak terlalu suka mahasiswa ITB dijelek-jelekkan (apalagi di situ ada Gea, yang notabene mahasiswa UI, yang saya sanjung-sanjung terus). Sikap seperti inilah yang harus direformasi dari kepala sebagian alumni ITB. Justeru karena saya peduli dengan almamater saya, maka saya ungkapkan keburukan-keburukan mahasiswa ITB, agar kita bisa meng-introspeksi diri dan memperbaikinya. Kalau saya diam saja melihat segala ketidakberesan ini, secara tidak langsung saya ikut menjerumuskannya.

Gejala mengkhawatirkan lainnya adalah menurunnya budaya sopan-santun pada generasi muda sekarang. Sebagai bangsa timur, kita memiliki tata krama ketika berbicara kepada yang lebih tua, lewat di hadapan yang lebih tua, berbicara kepada wanita, dsb.  Seorang profesor (di perguruan tinggi sebelah) pernah bercerita kepada saya, suatu ketika dia menemukan bekas bakar-bakaran di halaman kampus. Dia pun memanggil satpam untuk membersihkannya. Satpam tersebut berujar bahwa ia akan mencari rekan-rekannya yang bekerja tadi malam karena kemungkinan merekalah yang melakukannya. Sore hari, selepas kuliah, sang profesor masih menemukan bekas bakaran-bakaranan tersebut, dia pun memanggil satpam,

“Mengapa ini kok tidak dibersihkan?” ujarnya.

Pak satpam pun menjawab, “Ternyata yang melakukan bakar-bakaran ini adalah anak-anak mahasiswa”.

“Kalau begitu suruh mereka membersihkan!”

“Sudah saya beritahu pak, tapi jawabannya, ‘Saya kan bayar di sini’!”

Benar-benar memprihatinkan, mereka pikir dengan bayar mereka bisa berbuat seenaknya.

Yah begitulah potret mahasiswa jaman sekarang yang serba cuek, tidak peduli lingkungan sekitar dan rendah sopan-santunnya. Kalau para mahasiswa seperti ini yang akan memimpin negara di masa datang, tidaklah mengherankan jika negara akan tetap carut marut seperti sekarang. Kalau ketika mahasiswa saja mereka “cuek”, tidak peduli terhadap orang di sebelahnya, bagaimana mungkin 20 – 30 tahun lagi, ketika mereka menempati jabatan-jabatan strategis di negara ini, mereka akan ingat kepada rakyat kecil, kepada orang miskin, kepada warga yang lemah, yang teraniaya, dan sebagainya.

Jangan salah, mahasiswa-mahasiswa ini bukan mahasiswa kelas teri, banyak dari mereka yang memiliki IPK yang tinggi. Namun jika indikator keberhasilan mahasiswa hanyalah mendapatkan IPK yang tinggi, maka almamater saya ini hanya akan mencetak sarjana-sarjana pintar tanpa peduli apakah mereka memiliki karakter atau tidak. Mungkin inilah mengapa korupsi di negara ini begitu marak. Menteri korupsi, anggota DPR korupsi, gubernur korupsi, walikota korupsi, bahkan profesor dan ustad pun ikut korupsi. Sesungguhnya negara ini tidak kekurangan orang pintar. Orang pintar itu banyak, tapi orang yang berakhlak, orang yang memiliki integritas dan jujur, itu yang langka!

Tidak salah, SMA saya dulu memilih motto, “Knowledge is Power but Character is More“. Baru sekarang saya paham betapa dalamnya filosofi di balik motto tersebut.

~dari lantai 3 perpus ITB~

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s